posted by on Profile, Recapitulation

No comments

Samsul - Pacho - Loco, 3 Penyerang Tertajam ISL 2014 sumber: indobolanews.com, ongisnade.co.id, sidomi.com

Samsul – Pacho – Loco, 3 Penyerang Tertajam ISL 2014
sumber: indobolanews.com, ongisnade.co.id, sidomi.com

Ferdinand Sinaga boleh saja terpilih sebagai pemain Indonesia Super League (ISL) 2014 berkat kontribusinya membawa Persib Bandung juara. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat pada Ferdinand, dia tidak masuk dalam daftar tiga penyerang tertajam ISL musim lalu.

Ada tiga nama lain yang secara statistik lebih layak untuk dikedepankan mengisi daftar tersebut. Tentunya ada nama Emmanuel Kenmogne yang menjadi top scorer ISL 2014. Dua nama lain adalah penyerang Arema, yaitu Samsul Arif dan striker gaek, Cristian Gonzales.

Ada fakta unik di antara ketiganya. Pacho Kenmogne, pemain Kamerun yang punya paspor Belgia, lalu Samsul Arif merupakan pesepak bola berkebangsaan Indonesia. Sementara Cristian Gonzales, pada mulanya sama seperti Kenmogne, berlabel pemain asing, tapi sejak 2010 dia dinaturalisasi menjadi warga negara Indonesia. Ketiganya adalah barometer penyerang berdasar status kewarganegaraannya.

Mengapa ketiganya masuk daftar sebagai penyerang tertajam?
Ketiganya dipilih masuk daftar ini jelas bukan karena faktor suka atau tidak suka. Melainkan melalui analisis data statistik sepanjang musim 2014. Dari data itulah ketiga pemain ini layak untuk disebut sebagai penyerang paling tajam.

Parameter yang dipergunakan tentu jumlah gol. Untuk yang satu ini jelas Kenmogne harus masuk. Tapi, tidak hanya itu, ada parameter lain seperti jumlah penampilan, akurasi tembakan, dan lain sebagainya.

Menariknya ketiga pemain ini memiliki jumlah pertandingan yang sama, yaitu 25 laga. Tapi, ketiganya memiliki jumlah menit bermain yang variatif. Wajar saja karena kebutuhun strategi pelatih satu dua pemain perlu untuk dirotasi. Yang biasanya menjadi pemain inti harus bersabar duduk di bangku cadangan untuk menunggu giliran bermain. Ketiganya mampu menjawab kepercayaan pelatih, ketika diberi kesempatan tampil mereka tampil tajam.

Emmanuel Kenmogne punya kualitas komplet sebagai penyerang

Emmanuel "Pacho" Kenmogne, Top Scorer ISL 2014 sumber: m.beritajatim.com

Emmanuel “Pacho” Kenmogne, Top Scorer ISL 2014
sumber: m.beritajatim.com

Musim 2014 merupakan musim kedua Kenmogne bermain di ISL. Sebelumnya dia bermain untuk Persija Jakarta. Penyerang kelahiran Bafaussam, Kamerun, 2 September 1984, itu musim lalu bermain dalam 2.231 menit. Dia mencetak 25 gol, itu berarti rata-rata golnya pertandingan adalah 1. Rata-rata yang cukup tinggi untuk penyerang.

Dengan demikian berarti pemain yang mengawali karir di Sable FC ini memiliki rataan konversi gol 45%. Pesepak bola yang pernah bermain untuk Royal Antwerp, Olympiakos Nicosia, dan Ethnikos Achna sebelum akhirnya bergabung dengan Macan Kemayoran di pertengahan musim 2013/2014 ini, rata-rata melepaskan tembakan ke arah gawang per pertandingannya 2,2 dengan akurasi 62%. Dia adalah sosok penyerang berbahaya yang ditakuti oleh kiper dan bek lawan.

Melihat statistik tersebut tentu menggiurkan untuk merekrutnya. Persib dan Persija sempat mengajukan tawaran untuk meminangnya tapi dia kemudian memilih bermain untuk Kelantan FA di Liga Malaysia. Dia hijrah ke negeri Jiran itu bersama rekannya semasa di Persebaya, Issac Pupo.

Meski minim menit bermain Samsul Arif tampil tajam

Samsul Arif, Penyerang Lokal Tersubur ISL 2014 sumber: ongisnade.co.id

Samsul Arif, Penyerang Lokal Tersubur ISL 2014
sumber: ongisnade.co.id

Sementara Samsul Arif, meski punya menit bermain yang minim dia mampu tampil tajam ketika diberi kesempatan turun bertanding. Samsul Arif memang bermain dalam 25 pertandingan tapi jumlah menit bermainnya hanya 1.335 menit, jauh berbeda dengan Kenmogne maupun Cristian Gonzales.

Hal tersebut terjadi lantaran Samsul Arif lebih sering tampil sebagai pemain pengganti. Hal yang wajar mengingat Arema menerapkan sistem rotasi bagi semua pemain dan di lini depan ada nama lain seperti Gonzales, Beto Goncalves, Sunarto, hingga Dendi Santoso. Namun, justru di sinilah penyerang kelahiran Bojonegoro, 14 Januari 1985, itu menunjukkan tajinya. Dia mampu mengoleksi 16 gol atau rata-rata 0,64 gol per pertandingan. Rataan konversi golnya 57% dan mencetak gol setiap 83,4 menit.

Pesepak bola yang mengawali karir bersama Persibo Bojonegoro ini juga mampu melakukan tembakan ke arah gawang 1,1 kali per pertandingan. Akurasi tembakannya lebih baik dari Kenmogne, yakni 63%. Kecuali parameter jumlah gol dan rata-rata tembakan ke gawang per pertandingan, pemain yang pernah membela Persela Lamongan pada 2009/2010 dan 2012/2013 ini punya catatan statistik yang lebih baik dibanding Kenmogne.

Cristian Gonzales, tua-tua keladi

Cristian "El Loco" Gonzales, Masih Subur di Usia Senja sumber: liputan6.com

Cristian “El Loco” Gonzales, Masih Subur di Usia Senja
sumber: liputan6.com

Sebutan tua-tua keladi layak disematkan pada Cristian Gonzales. Di usianya yang sudah menginjak 39 tahun ini dia masih mampu jadi salah satu penyerang tertajam di Indonesia. Dia juga masih dipanggil Alfred Riedl untuk tampil di Piala AFF 2014 lalu di Vietnam.

Panggilan tersebut rasanya memang layak mengingat statistiknya bersama Arema di ISL musim lalu cukup mengesankan. Pemain bernama lengkap Cristian Gerard Alfaro Gonzales itu masih kuat bermain dalam 25 pertandingan dengan total 2.135 menit bermain.

Kepercayaan pelatih Suharno dan Joko Susilo tak dia sia-siakan. 15 gol ditorehkannya musim lalu. Meski akhirnya Arema gagal melangkah ke final, Gonzales tetap menyita perhatian sendiri.

Pesepak bola kelahiran Montevideo, 30 Agustus 1975, itu tetap jadi ancaman nyata bagi setiap pertahanan lawan. Dia punya statistik rata-rata 0,6 gol per pertandingan. Dia juga sering melepaskan tembakan ke gawang lawan dengan rata-rata 1,4 tendangan per pertandingan. Akurasi tembakannya 54%. Sementara rataan konversi golnya 42%.

Dilihat dari data statistik memang di bawah Kenmogne dan Samsul Arif. Tapi, pencapaian El Loco –julukan Gonzales- tetaplah fenomenal. Dia sudah melewati usia emasnya sebagai pesepak bola tapi tetap bisa tampil tajam dan jadi elemen penting bagi klub yang dibelanya.

Gonzales juga punya rekor tersendiri di Liga Indonesia. Mengawali karir di Sud America dia mulai bermain di Indonesia ketika bergabung dengan PSM Makassar pada musim 2003/2004. Penampilan trengginasnya bersama Oscar Aravena menarik banyak minat dari klub lain. Dia akhirnya hijrah ke Persik Kediri di mana dia mampu menjuarai Liga Indonesia musim 2006. Setelah sempat membela Persib Bandung dan Persisam Putra Samarinda, Gonzales bergabung dengan Arema hingga kini. Total dia sudah mencetak 173 gol yang berarti paling banyak di antara pemain lain yang pernah bermain di Liga Indonesia sepanjang sejarah kompetisi di Tanah Air.

Musim 2015 Gonzales diperpanjang kontraknya oleh manajemen Arema. Dia tampaknya masih akan jadi andalan di lini depan. Pada usianya yang menjelang 40 tahun ini dia masih layak untuk diharapkan mencetak gol mengingat dia punya kemampuan brilian untuk mencari ruang di daerah pertahanan lawan dan menuntaskan peluang sekecil apapun.

Infografis 3 Penyerang Tersubur ISL 2014 (klik pada gambar untuk memperbesar)

Infografis 3 Penyerang Tersubur ISL 2014
(klik pada gambar untuk memperbesar)

Dengan Kenmogne hengkang, Samsul Arif dan Gonzales kini merupakan dua penyerang tertajam di ISL 2014 yang masih tersisa. Keduanya akan bersaing dengan penyerang lain yang punya potensi untuk jadi penyerang tertajam seperti Ferdinand Sinaga, Titus Bonai, Boaz Solossa, Lancine Kone, dan lainnya. Menarik untuk menantikan kiprah mereka di ISL 2015.

Oleh Sirajudin Hasbi
@hasbisy

posted by on Profile

No comments

Gustavo Fabian 'Gusty' Lopez, Argentine Wizard source: master303.com

Gustavo Fabian ‘Gusty’ Lopez, Argentine Wizard
source: master303.com

For Indonesian football fans, the name Gustavo Fabian Lopez is no stranger. The Argentine midfielder spent 4 years of his footballing career in the archipelago nation, where he made a name of himself. Playing for Persela for 3 seasons in 2 different occasions, he became a fan favorite in Lamongan.

On his second stint with Persela from 2011 to 2013, he made a prolific tandem with Mario Alejandro Costas, a fellow Argentinian. In 2 seasons, Lopez and Costas produced up to 34 goals for Persela. Sadly, in 2014, the duo had to leave Persela. While Costas chose Persija, Lopez moved South East bound from Lamongan to Malang.

Lopez-Costas, Deadly Duo from Lamongan source: goal.com

Lopez-Costas, Deadly Duo from Lamongan
source: goal.com

With a very strong Arema side, Lopez teamed up with Cristian Gonzales and Alberto Goncalves up front. Local Indonesian media paired the trio with Barcelona’s Messi-Suarez-Neymar, as both trios consist of players from the same countries: Argentina, Uruguay, and Brazil. The three players produced more than half of Arema’s total goal tally in the 2014 Indonesia Super League (ISL).

Lopez possesses a set of required skills to be a productive playmaker. His statistics during the 2014 ISL show it all. Let alone scoring 8 goals, Lopez was also involved in another 8 by providing the assist. His remarkable ball keeping and dribbling techniques indicate his Latino characteristic. In average, Lopez successfully made 1.3 dribbles per game.

Lopez appeared in 23 matches with 1,903 minutes played during the 2014 ISL. Averagely, he made 59.5 successful passes and 2.2 successful crosses per game. He fired 1.1 shots on goal per game in average with 40.7% accuracy. His free-kick taking ability completes his attributes as a quality player.

Fun, Yet Disappointing Season with Arema source: bolaskor.com

Fun, Yet Disappointing Season with Arema
source: bolaskor.com

Arema’s journey ended by Persib in the semifinal. Lopez was subbed out in the 2nd half of normal time due to injury. Without his wizardry creativity, Arema’s attack fell short to score more goals in the extra time. In the other hand, Persib managed to score twice and eventually claimed the crown by beating Persipura in the final.

Lopez decided not to extend his involvement with Arema in 2015. He decided to move abroad to Malaysia without winning any major trophy during his career in Indonesia. He joined Terengganu FA for the 2015 Malaysia Super League, and teams up with Paulo Rangel upfront, who won the competition’s Golden Boot Award in the previous season.

With the Argentine Wizard on board, Terengganu can now aim for a better outcome.

11 Gustavo Lopez-01

Gusty Lopez’s Statistics in the 2014 Indonesia Super League with Arema (click on image to enlarge)

Selamat datang, Wizard Terengganu!

by Pramuaji Ajay

@PramuajiAjay

posted by on Profile, Recapitulation

No comments

Lord A7ep sumber: sidomi.com

“Lord A7ep”
sumber: sidomi.com

Lord Atep, Lord Atep, Lord Atep”. Seruan tersebut menggema di Stadion Thuwunna Youth Training Centre, setelah kapten Persib, Atep, berhasil membawa timnya unggul 1-0 atas wakil Myanmar Ayeyawady United pada lanjutan babak penyishian AFC Cup 2015, Rabu (11/3). Gol Atep berawal dari pergerakan Tantan di sisi kiri pertahanan Ayeyawady United, lalu kemudian dirinya mengirimkan umpan kepada Atep yang sudah berdiri bebas di dalam kontak penalti, yang disambut dengan sebuah tendangan keras melalui punggung kaki, yang menaklukan penjaga gawang Vanlal Hruala.

Sayang gol indah Atep ini menjadi sia-sia, karena tim yang sebelumnya bernama Delta United ini berhasil menyamakan kedudukan melalui Edison Fonsesca pada babak kedua. Persib pun akhirnya hanya membawa pulang satu poin dari Yangon.

Lord adalah ungkapan satir yang diberikan kepada pemain internasional Denmark, Niklas Bendtner, yang merasa dirinya sejajar dengan dua pemain terbaik dunia saat ini, yaitu Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Akan tetapi hal tersebut nyatanya tidak diiringi dengan kinerja dan prestasi sang pemain.

Ungkapan Lord ini juga disematkan kepada kapten Persib, Atep. salah satu alasanya yang paling mengemuka adalah ketika dirinya pernah berujar akan mencetak minimal 10 gol per-musim bagi Maung Bandung. Tetapi, dalam kenyataanya sang skipper belum pernah sekalipun melakukanya sejak kembali ke Bandung pada 2008 setelah sebelumnya bermain untuk rival utama, Persija.

Akan tetapi Liga Super Indonesia (LSI) 2014 lalu menyisakan cerita lain, Atep berhasil membawa tim kebanggan Jawa Barat ini menjadi kampiun setelah puasa selama 19 tahun. Namun, ada banyak hal lain yang dicatatkan oleh Lord A7ep dalam perjalanannya membawa Persib menjadi juara LSI 2014. Berikut ulasan kami mengenai Lord Atep dalam angka:

1036
Total Waktu Bermain Lord Atep musim lalu, di mana 577 menit dirinya bermain sebagai starter. Atep tercatat hanya 3 kali bermain 90 menit penuh yaitu pada pertandingan pertama Persib di LSI 2014 melawan Sriwijaya FC, serta babak delapan besar ketika berhadapan dengan Mitra Kukar dan Persebaya Surabaya.

374
Jumlah banyaknya operan yang dilepaskan oleh pemain kelahiran Cianjur ini, dengan rincian 13,4 operan dalam setiap pertandingan dengan tingkat kesuksesan sebesar 79,74%

68
Menit di mana Djadjang Nurjdjaman biasanya memutuskan memasukan Atep untuk memberi perubahan pada jalannya pertandingan.

56
Atep termasuk pemain Persib yang cukup sering kehilangan bola baik ketika membangun serangan ataupun membantu pertahanan, dirinya kehilangan bola sebanyak 56 kali pada musim lalu.

46
Persentase Lord Atep dalam mengkonversi peluang di LSI 2014.

20
Supersub, Atep hanya membutuhkan rata-rata 20 menit untuk mencetak gol, sejak dirinya masuk ke lapangan dari bangku cadangan. bahkan 4 dari 6 gol yang ia ciptakan sepanjang musim lalu terjadi menjelang pertandingan usai.

Loyalitas Total Untuk Persib sumber: bolaindo.com

Loyalitas Total Untuk Persib
sumber: bolaindo.com

19
Step over dan trik yang dilakukan oleh Atep tentunya mengundang lawan untuk tidak segan-segan untuk menghentikanya dengan segala cara, sebanyak 19 kali Atep dijatuhkan oleh lawan sepanjang musim lalu.

17
Salah satu hal yang diamini pula oleh bobotoh adalah kebiasaan Atep untuk beratraksi yang terkadang tidak efektif. 17 kali dribelnya tidak menghasilkan apa-apa, rata-rata gocekan sukses Atep pun termasuk yang kurang baik untuk ukuran pemain yang memilki kecepatan dan skill mumpuni, yaitu 39,29% per pertandingan.

16
Uniknya, musim lalu Atep termasuk pemain yang sukses memenangkan duel udara selain duo bek tengah Achmad Jufriyanto dan Vladimir Vujovic. Wakil kapten tim nasional Indonesia U-23 di SEA Games Thailand 2007 ini berhasil memenangi duel udara sebanyak 16 kali dengan persentase kesukesan sebesar 69,57% di LSI 2014.

13
Merupakan jumlah tendangan tepat sasaran yang dilepaskan oleh Atep sepanjang musim 2014.

9
Bisa jadi dikarenakan kehabisan nafas setelah melakukan trik, berimbas kepada minimnya jumlah umpan silang yang dilepaskan oleh Atep. Dari 39 umpan silang hanya 9 yang tepat sasaran di LSI 2014, selebihnya melenceng atau berhasil diantisipasi oleh pertahanan lawan.

7
Nomor punggung yang identik dengan Lord A7ep. Nomor ini ia kenakan sejak ia mengawali karir profesionalnya bersama Persija hingga sekarang

6
Jumlah Gol yang berhasil disarangkan di LSI 2014 oleh pemain yang memulai debut tim nasional Indonesia pada 25 Agustus 2006 berhadapan dengan Myanmar di ajang Merdeka Games.

0,5
Jumlah rata-rata pelanggaran yang dibuat Atep dalam setiap pertandingan LSI 2014.

0
Lord Atep tidak pernah menerima satupun hukuman kartu di LSI 2014.

Lord A7ep Dalam Angka klik pada gambar untuk memperbesar

Lord A7ep Dalam Angka
klik pada gambar untuk memperbesar

Sejak menerima estafet kepemimpinan dari Maman Abdurrahman pada 2013, Atep sejauh ini masih dianggap belum mampu memberikan permainan yang menunjukan bahwa dirinya layak memimpin Maung Bandung. Nilai positifnya adalah Atep bertahan di Persib, meskipun banyak pemain hengkang karena tidak tahan dengan tekanan dari bobotoh dan juga situasi ketika Persib mandeg prestasi. Loyalitasnya kepada Persib merupakan sesuatu yang berharga. Golnya ke gawang Arema Cronus pada babak perpanjangan waktu di semifinal LSI 2014 juga merupakan bukti loyalitas dan totalitasnya kepada Persib, sekalipun tidak diberikan waktu bermain yang banyak.

Bahkan, julukan Lord yang disematkan kepadanya, justru ditanggapi sebagai bentuk penghargaan bobotoh kepada dirinya, dan menjadi tambahan motivasi untuk bermain lebih baik lagi. Seperti pernyataanya yang dikutip oleh media lokal Bandung. “Julukan (Lord) pasti menjadi beban, tetapi saya juga apresiasi, intinya walaupun beban saya anggap tugas berat itu sebagai motivasi untuk memberikan yang terbaik dan memberikan kebahagiaan bagi masyarakat yang mencintai Persib.”

All Hail Lord Atep!

Oleh Aun Rahman

@aunrrahman

posted by on Profile, Recapitulation

No comments

2 Gelandang Bertahan Korea Selatan di Liga Super Indonesia sumber: sportanews.com dan goal.com

2 Gelandang Bertahan Korea Selatan di Liga Super Indonesia
sumber: sportanews.com dan goal.com

K-Pop mencatatkan rekor pada tahun 2012 ketika ada 33 boysband dan 38 girlsband baru yang melakukan debut. Penetrasi budaya Korea Selatan ke negara lain, termasuk Indonesia, pun semakin kuat. Demam K-Pop di Indonesia tidak hanya menjalari kaum hawa tapi juga para lelaki.

Tiket konser yang menghadirkan artis dari Negeri Ginseng tersebut selalu ludes terjual. Rekaman video pertunjukan grup idola ramai di pasaran, entah yang legal ataupun bajakan. Tidak hanya berkutat pada lagu, kumpulan artis yang mampu menari lemah gemulai tersebut juga hadir dalam acara reality show. Sama dengan lagunya, reality show ini laris manis di pasaran. K-Pop jadi topik perbincangan hangat di kantin, kafe, hingga ruang-ruang akademik.

Setiap penggemarnya punya alasan tak jauh berbeda ketika ditanya mengapa mereka menyukai K-Pop. Idol grup dari negerinya Park Ji Sung itu mampu menyuguhkan penampilan apik, gaya menari yang khas dan orisinil, yang dibumbui dengan tata ruang dan gaya berpakaian istimewa.

Tidak hanya di ranah budaya dan hiburan, Korea Selatan juga memberi warna bagi dunia sepak bola kita. Namun, dengan gaya yang berbeda. Tidak ada pemain berparas rupawan dan gaya gemulai khas penyanyi K-Pop, pesepak bola dari Korea Selatan identik sebagai pekerja keras. Ketika bertanding tak kenal kompromi dengan pihak lawan, jika memang perlu bermain keras, mereka akan dengan senang hati melakukannya. Identitas seperti itu melekat jelas pada dua gelandang bertahan Lim Joon-sik dan Yoo Hyun-goo.

Petarung sejati di lini tengah dengan rekor juara
Lim Joon-Sik datang pertama kali ke Indonesia pada tahun 2010. Dia bergabung dengan Sriwijaya FC. Bersama Laskar Wong Kito dia mampu meraih gelar Liga Super Indonesia (LSI) musim 2011/2012 di bawah arahan pelatih Kas Hartadi.

Lim Joon-sik, Persipura sumber: bola.net

Lim Joon-sik
sumber: bola.net

Usai mengakhiri kerja sama dengan klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan itu, Lim hijrah ke Papua. Dia bergabung dengan klub besar Persipura. Di sinilah dia kemudian mampu mencetak rekor tersendiri. Berkat kontribusi besarnya di lini tengah Tim Mutiara Hitam, pria yang lahir pada 13 September 1981 ini mampu mengantar Persipura jadi juara LSI 2013. Dia jadi pesepak bola pertama di dunia yang memenangkan gelar LSI dalam dua musim berturut-turut. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada pemain lain yang mampu menyamai pencapaiannya tersebut dan mungkin sulit untuk melakukannya.

Di bawah arahan Jacksen F. Tiago, Lim mampu tampil memukau. Bersama Immanuel Wanggai dan Gerald Pangkali, Lim adalah komponen penting lini tengah klub kebanggaan masyarakat Papua ini. Musim 2014 lalu, Lim tampil dalam 23 pertandingan. Regulasi hanya tiga pemain asing yang boleh diturunkan dalam satu pertandingan sempat membuatnya dirotasi dengan rekan senegaranya, Yoo Jae-hoon, Bio Paulin, dan Robertino Pugliara. Namun, Jacksen kerap memilihnya untuk mengisi satu slot pemain asing. Dari total 28 pertandingan yang dijalani Persipura, hanya lima pertandingan yang tak dia ikuti.

Total, Lim bermain selama 2,010 menit bersama Tim Mutiara Hitam di LSI 2014. Lim tak mencetak satupun gol. Tapi, kekuatan utamanya ada dalam aksi bertahan. Sebagai gelandang bertahan, tugas utama Lim adalah memutus serangan lawan agar tak mengancam pertahanannya. Rata-rata, Lim melakukan 2,5 kali tekel sukses per pertandingan, juga melakukan 2,5 kali intersep dan 1,3 kali sapuan setiap laga. Dia juga cukup gigih untuk memenangkan duel udara. Dia melakukan rata-rata 4,2 sundulan per pertandingan.

Sebagai petarung, tak heran jika Lim kerap melakukan pelanggaran. Rata-rata dia melakukan dua pelanggaran per pertandingan. Itu mengakibatkan sepanjang musim lalu gelandang dengan tinggi 178 cm itu mengoleksi hingga empat kartu kuning.

Yoo Hyun-goo jaminan kokohnya lini tengah Semen Padang
Di sebelah Barat Indonesia, Yoo Hyun-Goo jadi pemain penting bagi Semen Padang. Pria kelahiran 25 Januari 1983 itu jadi jaminan kokohnya lini tengah Kabau Sirah. Walaupun gagal mengantarkan tim yang ditopang oleh pabrik semen tersebut ke semifinal, penampilan Yoo tetaplah layak disebut sebagai salah satu gelandang terbaik yang bermain di negeri ini.

Yoo Hyun-koo sumber: spiritsumbar.com

Yoo Hyun-koo
sumber: spiritsumbar.com

Total dia bermain dalam 1,472 menit dari 17 pertandingan. Catatan bertahannya bisa dibandingkan dengan Lim Joon-Sik, bahkan unggul dalam beberapa aspek. Pesepak bola berusia 32 tahun ini mampu melakukan rata-rata 3 tekel sukses per pertandingan dan 2,8 usaha memotong bola di tiap laga. Di kedua aspek ini dia lebih tangguh dibanding kompatriotnya, Lim.

Sementara pada parameter clearance dan sundulan, Yoo sedikit kalah dengan “hanya” membukukan rata-rata satu sapuan per pertandingan dan 3,5 sundulan per laga. Gelandang bertahan Semen Padang ini juga lebih beringas dengan mencatatkan rata-rata 2,5 kali pelanggaran per pertandingan. Tak heran jika dia sempat mengoleksi satu kartu merah dan tiga kartu kuning.

Satu lagi yang keunggulan Yoo dari Lim Joon-Sik adalah torehan gol. Yoo berhasil mencetak satu gol yang mengantarkan Semen Padang meraih kemenangan tandang atas Persita pada 7 Juni 2014. Meski sudah membela Semen Padang sejak awal karirnya di Indonesia pada 2010, tidak ada tanda dia sudah bosan dan ingin hengkang. Kenyamanan di Padang yang kondusif membuatnya memilih bertahan untuk menyambut musim 2015.

Statistik Lim Joon-sik dan Yoo Hyun-goo di LSI 2014 klik pada gambar untuk memperbesar

Statistik Lim Joon-sik dan Yoo Hyun-goo di LSI 2014
klik pada gambar untuk memperbesar

Baik Lim Joon-Sik dan Yoo Hyun-Goo adalah potret pesepak bola Korea Selatan yang pekerja keras. Keduanya bisa menjadi duta bagi negeri asalnya bahwa negeri gingseng tak melulu mengenai tarian lembut, tapi bisa keras dan beringas ketika bertugas sebagai gelandang bertahan di lapangan. Klub Indonesia lain mungkin bisa mencari gelandang bertahan tangguh dari Korea Selatan mengingat rekam jejak mengesankan yang telah ditorehkan oleh Lim Joon-Sik dan Yoo Hyun-Goo.

oleh Sirajudin Hasbi

@hasbisy

posted by on Profile

No comments

Deniss Romanovs: Kiper Terbaik ISL 2014 versi Labbola sumber: ggintersport.com

Deniss Romanovs: Kiper Terbaik ISL 2014 versi Labbola
sumber: ggintersport.com

Penjaga gawang Pelita Bandung Raya (PBR), Deniss Romanovs, layak untuk disebut sebagai kiper terbaik Indonesia Super League (ISL) 2014 meski timnya tak jadi juara. Penampilan cemerlangnya sepanjang musim jadi komponen penting kesuksesan PBR yang tak diunggulkan bisa melaju hingga semifinal ISL musim lalu.

Pesepak bola yang kenyang pengalaman bermain di Latvia, Romania, Ceko, Azerbaijan, hingga akhirnya mendarat di Indonesia sejak tahun 2011 ini selalu bermain dalam 27 pertandingan yang dijalani oleh PBR. Di tim berjuluk The Boys Are Back ini Romanovs selalu jadi pilihan utama pelatih Dejan Antonic untuk menjadi benteng pertahanan terakhir. Pilihan yang tak salah untuk mempercayai kiper bertinggi 187 cm ini.

Handal dalam menahan tembakan lawan
Bermain selama 2,430 menit, kiper kelahiran Riga, Latvia, 2 September 1978 ini mampu membuat 87 penyelamatan. Itu berarti Romanovs melakukan 3.6 savesdi setiap pertandingannya.

Tidak hanya handal dalam menahan tembakan lawan, Romanovs juga piawai dalam memotong bola dari lawan. Rata-rata setiap pertandingan, pria yang menjalani debut dengan timnas Latvia pada 3 Desember 2004 melawan Bahrain dalam sebuah pertandingan persahabatan ini mampu melakuan sekali intercept. Secara keseluruhan dia melakukan 25 kali interceptmusim lalu.

Dia juga kerap berani menyongsong datangnya bola yang mengarah ke gawangnya jika bek PBR sudah tak mampu mengamankan areanya. Romanovs melakukan 34 kali clearance. Itu berarti setiap pertandingan rata-rata dirinya melakukan 1,4 sapuan.

Mencatat Rekor Save, Intercept dan Clearance Terbanyak di ISL 2014 sumber: sidomi.com

Mencatat Rekor Save, Intercept dan Clearance Terbanyak di ISL 2014
sumber: sidomi.com

Perlu diketahui bahwa Labbola mendata statistik Denniss Romanovs dalam 24 pertandingan. Itu berarti ada tiga pertandingan yang tidak dicatat jadi jumlah penyelamatan, intersep, dan sapuannya lebih banyak dibandingkan angka yang disebutkan tersebut. Meski demikian, angka tersebut sudah merupakan yang paling banyak dibandingkan kiper lain baik dalam parameter sapuan, intersep, dan penyelamatan.

Cemerlang di tengah komposisi skuat yang tidak istimewa
Jadi, sah saja jika kemudian kita berargumen bahwa dia adalah kiper terbaik ISL musim lalu. Walaupun tentunya kita menyadari bahwa jika dilihat dari total clean sheet, Romanovs bukan yang terbaik.

Pemain yang pernah membela Cendrawasih Papua, Arema, dan Pro Duta di kompetisi Liga Primer Indonesia ini ‘hanya’ tidak kebobolan dalam tujuh pertandingan. Total dia kemasukan 27 gol atau rata-rata satu gol bersarang ke gawangnya setiap pertandingan.

Kurnia Meiga punya catatan yang lebih baik. Kiper Arema tersebut hanya kebobolan 18 gol sepanjang musim lalu dengan 12 pertandingan dari 23 laga yang dia mainkan berakhir dengan tidak kebobolan. Lalu ada nama Yoo Jae-Hoon, kiper Persipura musim lalu yang mampu menjaga gawangnya tak kebobolan dalam sebelas pertandingan dan total kemasukan 20 gol.

Namun, Romanovs layak disebut yang terbaik lantaran dia tampil cemerlang di tim yang komposisi skuatnya tidak istimewa. PBR diisi oleh kombinasi pemain berpengalaman dan junior yang belum punya nama besar di sepak bola Indonesia. Tidak ada Victor Igbonefo atau Bio Paulin yang disebut sebagai bek kuat di ISL yang jadi benteng untuk Kurnia Meiga dan Yoo Jae-Hoon. Oleh karena itu pula Romanovs kerap meneriaki pemain belakang agar bermain lebih disiplin. Kepemimpinannya ini menjadi nilai tambah juga baginya.

Didukung Barisan Pemain Tanpa Nama Besar sumber: ggintersport.com

Didukung Barisan Pemain Tanpa Nama Besar
sumber: ggintersport.com

Walaupun ditawari bermain di luar Indonesia, Romanovs masih setia menjadi anak asuh Dejan Antonic di PBR untuk musim 2015. Dengan kondisi PBR musim ini digoyang masalah finansial yang sedikit banyak tentu berpengaruh pada situasi dalam tim, keberadaan Romanovs akan semakin krusial musim depan. Tak banyak pemain bintang yang berlabuh, justru pemain penting seperti Bambang Pamungkas dan Rizky Pellu hengkang ke klub lain. Menarik untuk menanti kiprah penjaga gawang gaek yang memiliki 5 caps bersama tim nasional Latvia ini di ISL musim 2015.

Infografik Deniss Romanovs di ISL 2014 klik pada gambar untuk memperbesar

Infografik Deniss Romanovs di ISL 2014
klik pada gambar untuk memperbesar

Oleh Sirajudin Hasbi

@hasbisy

posted by on Profile

No comments

Pemain Terbaik ISL 2014 Versi Labbola sumber: tempo.co

Pemain Terbaik ISL 2014 Versi Labbola
sumber: tempo.co

Makan Konate sejatinya layak disebut menyandang gelar pemain terbaik Indonesia Super League (ISL) 2014. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Ferdinand Alfred Sinaga yang memperoleh anugerah tersebut dari PT Liga Indonesia, performa gemilang Konate musim lalu jadi komponen penting diraihnya gelar juara Persib Bandung.

Pemain Serba Bisa dan Aset Berharga Persib

Dahaga gelar selama 19 tahun terbayar berkat keberhasilan Pangeran Biru menekuk Persipura Jayapura melalui adu penalti di final yang digelar di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang. Sudah barang tentu kejayaan tersebut tak diraih dengan mudah. Butuh perjalanan panjang mengarungi musim yang teramat melelahkan.

Persib selalu punya keinginan untuk juara dari musim ke musim. Mereka selalu mengontrak pemain berlabel bintang dengan nilai kontrak mahal. Tapi, harapan tak selalu bisa jadi kenyataan. Ketika akhirnya harapan itu jadi nyata, itu berkat keberhasilan seluruh komponen klub mulai dari manajemen, jajaran pelatih, pemain, hingga suporter yang tak lelah memberikan dukungannya.

Salah satu sosok yang berpengaruh penting dalam kesuksesan tersebut tentulah Makan Konate. Gelandang serang berusia 23 tahun tersebut selalu tampil dalam 28 pertandingan dari babak penyisihan Wilayah Barat, Babak 8 Besar, hingga pertarungan hidup mati di semifinal dan final.

Lihai Mengkreasi Peluang dan Mencetak Gol

Guna menggaransi satu tempat di tim utama, tentulah Konate perlu punya teknik olah bola menawan agar Djajang Nurjaman seratus persen percaya padanya. Lantaran punya kemampuan mumpuni, pemain kelahiran Bamako, Mali, tersebut selalu dipilih sebagai pemain inti. Dia bisa bermain sebagai gelandang serang di belakang penyerang, bermain melebar, maupun sebagai gelandang jangkar jika dibutuhkan. Belakangan, berkat kecepatan dan ketajamannya, dia diberi kebebasan bergerak di belakang striker untuk memaksimalkan potensinya.

Pemain yang lahir pada 10 November 1991 itu memang sangat tajam. Ketika Djibril Coulibaly yang diharapkan bisa jadi target man melempem, Konate bisa mem-back up peran dari rekan senegaranyanya tersebut. 13 gol yang dia ciptakan menjadi tolak ukur yang produktif bagi seorang gelandang. Tidak hanya itu, sebagai gelandang serang dia melayani pemain lain untuk memperoleh peluang mencetak gol. Total dia menciptakan 5 assist.

Pemain ini memang dianugerahi kemampuan komplet. Dia bisa tajam sekaligus akurat dalam membagi bola. Sepanjang musim lalu, Konate melepaskan 96 tembakan di mana 36 di antaranya menemui sasaran. Akurasinya 37.5% membuat setiap penjaga gawang lawan tegang setiap Konate memegang bola. Ada 1,196 operan sukses dengan akurasi mencapai 83.17%. Akurasi yang di atas rata-rata pemain sepak bola Indonesia pada umumnya.

Tak hanya berhenti di situ, dengan postur ideal bertinggi 178cm, Konate lihai dalam melindungi bola yang dia giring. Dia menciptakan 60 dribel sukses alias 2,1 dribel sukses per pertandingan. Jika bermain lebih melebar, pemain berkebangsaan Mali ini kerap melepaskan umpan silang untuk disambut rekan setimnya. Dia melakukan 27 umpan silang sukses atau setidaknya sekali umpan silang sukses setiap pertandingan.

Top Skorer Persib dan Gelandang Tersubur ISL 2014 dengan 13 Gol sumber: bola.liputan6.com

Top Skorer Persib dan Gelandang Tersubur ISL 2014 dengan 13 Gol
sumber: bola.liputan6.com

Sebutan sebagai peamin serba bisa layak disematkan padanya setelah dia terbukti handal dalam menyerang maupun bertahan. Jika catatannya ketika menyerang sudah sedemikian menakutkan bagi lawan untuk mewaspadainya, maka dia bisa jadi momok yang menakutkan untuk setiap gelandang lawan yang memulai serangan. Dia melakukan 62 kali tekel atau 2,2 tekel per pertandingan, serta 67 kali intersep yang berarti 2,4 kali memotong bola lawan setiap pertandingannya. Kemampuannya tersebut tentu membantu barisan pertahanan yang digalang oleh Vladimir Vujovic dan Achmad Jufriyanto untuk bisa mengatur lini belakang ketika lawan hendak melakukan serangan.

Kebugaran dan Ketenangan

Seluruh kemampuan memukau tersebut tidak akan bermanfaat secara maksimal jika tak ditunjang dengan kebugaran. Selalu bisa jadi andalan di setiap pertandingan itu menunjukkan bahwa pesepak bola yang mengawali karir di Indonesia bersama PSPS Pekanbaru dan bersinar dengan Barito Putera tersebut punya kebugaran mengesankan sekaligus ketenangan.

Kebugaran fisik jelas jadi salah satu faktor utama seorang pemain untuk bisa menampilkan permainan terbaiknya. Tak mungkin Konate bisa mengoleksi 60 dribel sukses jika dia mudah dijatuhkan oleh pemain belakang lawan. Tidak mungkin juga tanpa kebugaran Djanur, sapaan akrab Djajang Nurjaman, terus percaya untuk memasangnya di setiap laga.

Sementara berkat ketenangannya, Konate bisa tepat mengambil keputusan ketika harus melakukan tembakan atau memberi umpan pada rekan setimnya. Dia melakukan 3,4 tendangan setiap pertandingan dengan 1,3 tembakannya tepat sasaran. Kemampuannya mengontrol emosi juga meminimalkan dia menerima hukuman kartu kuning maupun kartu merah yang bisa saja membuatnya absen di pertandingan berikutnya. Musim lalu dia hanya mengoleksi tiga kartu kuning.

Dengan seluruh kemampuannya tersebut tentulah kita layak menyebutnya sebagai salah satu pemain terbaik yang berlaga di ISL. Tantangannya ke depan lebih berat mengingat Persib juga bermain di Piala AFC serta perubahan format LSI menjadi satu wilayah (total jadi ada 34 pertandingan).

Jika musim lalu dia tampil baik dalam 2,543 menit pertandingan, musim ini sangat mungkin angka tersebut bertambah mengingat jumlah pertandingan lebih banyak dan intensitasnya lebih sering. Inilah ujian berat bagi Makan Konate untuk bisa menjaga kebugaran agar terus bermain dalam performa terbaiknya di setiap pertandingan.

Infografis Statistik Makan Konate di ISL 2014 Klik gambar untuk memperbesar

Infografis Statistik Makan Konate di ISL 2014
Klik gambar untuk memperbesar

Oleh Sirajudin Hasbi
@Hasbisy

posted by on Recapitulation

No comments

Wasit Najamuddin Aspiran memberikan kartu merah kepada Ruben Sanadi sumber: ligaindonesia.co.id

Wasit Najamuddin Aspiran memberikan kartu merah kepada Ruben Sanadi
sumber: ligaindonesia.co.id

Dalam penyelenggaraannya yang ke-6, kompetisi Indonesia Super League (ISL) harus kembali menggunakan format dua wilayah seperti yang pernah terjadi di era Liga Indonesia sebelumnya. 28 tim dari seluruh penjuru Tanah Air dibagi ke dalam 2 Wilayah: Barat dan Timur, dengan masing-masing grup berisikan 14 tim. Sebanyak 227 pertandingan sejak Babak Penyisihan Wilayah, Babak 8 Besar, hingga partai Final telah rampung terlaksana. Persib mengukuhkan diri sebagai tim terbaik nusantara setelah menundukkan juara bertahan Persipura di laga pamungkas melalui drama adu penalti.

Dari 227 pertandingan yang dilaksanakan selamam musim 2014, kami mencatat dan merekapitulasi hukuman kartu yang keluar dari saku wasit. Bukan rahasia lagi bahwa sajian ISL kerap mempertontonkan permainan keras yang terkadang menjurus ke permainan kasar. Gaya bermain tersebut seringkali berujung pada hukuman berupa kartu kuning maupun merah.

Tidak mengherankan jika kemudian ada 982 hukuman kartu yang dikeluarkan oleh wasit selama ISL 2014. Rinciannya adalah: 925 kartu kuning, 32 kartu kuning kedua, dan 25 kartu merah langsung. Menariknya ada 25 pemain berbeda yang menerima kartu merah.

Prasetyo Hadi menjadi wasit paling tegas di ISL 2014. Dia tak segan mengeluarkan kartu hingga membuatnya menjadi wasit yang paling banyak mengeluarkan kartu, yaitu sebanyak 106 kali. Ada 100 kartu kuning yang dikeluarkan, lima kartu kuning kedua, serta satu kartu merah.

Prasetyo Hadi, 100 kartu kuning, 5 kartu kuning kedua, dan 1 kartu merah selama ISL 2014 sumber: sportanews.com

Prasetyo Hadi, 100 kartu kuning, 5 kartu kuning kedua, dan 1 kartu merah selama ISL 2014
sumber: sportanews.com

Pengoleksi hukuman terbanyak
Gerald Pangkali
, gelandang Persipura, menjadi pemain pertama yang menerima kartu kuning musim lalu saat laga perdana menghadapi Persela Lamongan. Ketika laga yang berlangsung 1 Februari 2014 di stadion Mandala Jayapura itu baru memasuki menit 17 dia sudah menerima hukuman dari wasit. Selain itu, penyeimbang lini tengah Mutiara Hitam ini menjadi pemain yang paling banyak menerima hukuman. Sepanjang musim 2014, Gerald Pangkali mengoleksi delapan karu kuning dan satu kartu merah.

Meski pemainnya jadi pengoleksi kartu terbanyak, Persipura tak jadi klub paling banyak menerima hukuman. Pelita Bandung Raya (PBR) yang dihuni banyak pemain muda itu memperoleh 69 kali hukuman dengan Imam Fathuroman sebagai yang paling banyak menerima. Total, Imam menerima delapan kartu kuning (jumlah yang sama dengan Gerald Pangkali, Persipura). Hal itu menjadikan mereka sebagai tim dengan hukuman kartu terbanyak. Sementara Barito Putra hanya mengoleksi 34 hukuman kartu. Jumlah paling sedikit yang diterima di antara kontestan ISL musim lalu.

Laga antara Persiram Raja Ampat melawan Putra Samarinda pada 17 Maret 2014 jadi pertandingan paling keras di ISL musim lalu. Ada 11 hukuman kartu yang diberikan wasit pada kedua tim.

Gerald Pangkali, penerima kartu kuning pertama, sekaligus pemain dengan hukuman kartu terbanyak di ISL 2014 sumber: sepakbola.com

Gerald Pangkali, penerima kartu kuning pertama, sekaligus pemain dengan hukuman kartu terbanyak di ISL 2014
sumber: sepakbola.com

Penerima hukuman kartu
Supardi Nasir, bek kanan Persib Bandung, yang menerima kartu kuning di menit 99 perpanjangan waktu laga final ISL menjadi pemain paling terakhir yang dihadiahi kartu kuning oleh wasit. Kartu kuning tersebut sekaligus menggenapkan perolehan hukuman kartu yang diterima oleh pemain berpaspor Indonesia menjadi 704 hukuman. Pemain lokal juga mengoleksi 18 kartu kuning kedua dan delapan kartu merah.

Sementara pemain asing yang berlaga di ISL 2014 secara keseluruhan mengoleksi 221 hukuman. Kemudian juga 14 hukuman kartu kuning kedua dan enam kartu merah.

Posisi bek memang paling rentan menerima kartu. Pemain belakang paling banyak menerima hukuman kartu yakni sebanyak 374 kartu kuning, 15 kartu kuning kedua dan delapan kartu merah. Disusul oleh barisan gelandang yang dikenai 358 hukuman kartu kuning, dan masing-masing sebelas untuk kartu kuning kedua maupun merah. Lalu posisi penyerang memperoleh 159 hukuman kartu kuning, enam kartu kuning kedua, dan lima kartu merah. Untuk penjaga gawang hanya 34 hukuman kartu kuning dan satu kartu merah tanpa pernah satu kiper pun yang menerima kartu kuning kedua.

Menit krusial paling rawan hukuman kartu
Ketika pertandingan memasuki menit krusial, menjelang berakhirnya babak pertama dan kedua, pemain lebih rawan untuk melakukan pelanggaran keras sehingga memperoleh hukuman kartu. Interval waktu menit 31 hingga 45+ ada 172 hukuman kartu kuning, lima kartu kuning kedua, dan satu kartu merah. Selain itu di babak pertama selama lima belas menit awal ada 63 hukuman kartu kuning dan satu kartu kuning kedua, serta satu kartu merah. Pada menit 16-30 ada 145 hukuman kartu kuning dan satu kartu merah tanpa ada satupun kartu kuning kedua.

Hukuman kartu lebih banyak lagi terjadi di babak kedua. Rentang waktu menit 76-90+ terjadi 229 hukuman kartu kuning, sepuluh kartu kuning, serta sembilan kartu merah. Pada lima belas menit pertama usai jeda turun minum ada 137 kartu kuning yang dikeluarkan wasit, lalu lima hukuman kartu kuning kedua, serta tiga hukuman kartu merah. Di menit 61-70, selain terjadi 177 hukuman kartu kuning, juga ada masing-masing sepuluh hukuman kartu kuning kedua dan kartu merah.

Pada empat besar yang menggunakan format semifinal dan final terjadi dua kali perpanjangan waktu, yaitu ketika semifinal antara Persib melawan Arema dan final kala Persib melawan Persipura. Ada dua hukuman kartu kuning di babak pertama perpanjangan waktu serta satu kartu kuning kedua yang kala itu diterima Vladimir Vujovic di partai puncak.

Pertama dan terakhir
Jika Gerald Pangkali menjadi pemain penerima kartu kuning pertama musim lalu maka Engel Berd Sani yang membela Persiram dan Silvio Escobar (Persepam Madura United) merupakan pemain yang menerima kartu merah pertama. Keduanya menerima kartu merah bersamaan di menit 62 ketika Persepam MU berjumpa dengan Persiram pada 18 April 2014. Sementara rekan setim Gerald Pangkali, Ruben Sanadi, bersama dengan Dendi Santoso (Arema) menerima kartu merah terakhir kala Persipura bertemu Arema pada 21 Oktober 2014 di menit 85. Keduanya terlibat perselisihan di lapangan yang menimbulkan kericuhan. Wasit menghukum mereka karena berbuat tidak pantas di lapangan dan memicu terjadinya keributan.

Untuk kartu kuning kedua, Vladimir Vujovic jadi pemain terakhir yang menerima hukuman itu saat laga final ISL melawan Persipura di stadion Jakabaring pada 7 November 2014 tepat di menit 110. Sementara pemain pertama yang menerima kartu kuning kedua adalah rekan Vujovic di Persib, Hariono, yang menerimanya saat melawan Persita tanggal 5 Februari 2014 pada menit ke-78. Ada dua pemain yang dua kali menerima kartu kuning kedua, yaitu Patrice Nzekou (Persiba Balikpapan) dan Hermawan (Pelita Bandung Raya).

Berikut infografis rekapitulasi hukuman kartu di ISL 2014.

Rekapitulasi Hukuman Kartu ISL 2014 klik gambar untuk memperbesar

Rekapitulasi Hukuman Kartu ISL 2014
klik gambar untuk memperbesar

oleh Sirajudin Hasbi
@hasbisy

posted by on Recapitulation

No comments

Emmanuel "Pacho" Kenmogne Top Skorer ISL 2014 dengan 25 Gol sumber: sidomi.com

Emmanuel “Pacho” Kenmogne
Top Skorer ISL 2014 dengan 25 Gol
sumber: sidomi.com

Dari 27 pertandingan yang terlaksana di Indonesia Super League (ISL) 2014, ada 676 gol tercipta, dengan rincian: 584 gol non-penalti, 82 penalti, dan 10 gol bunuh diri. Arema menjadi tim terproduktif di musim lalu dengan mencetak 64 gol dari 27 pertandingan. Sementara striker Persebaya, Emmanuel Kenmogne, keluar menjadi pemain tersubur musim 2014 dengan torehan 25 gol.

Supardi Nasir menadi top scorer dalam urusan gol bunuh diri. 2 dari 10 gol ke gawang sendiri yang tercipta di musim 2014 dibukukan oleh bek sayap Persib tersebut.

Samsul Arif Pemain Lokal Tersubur di ISL 2014 sumber: goal.com

Samsul Arif
Pemain Lokal Tersubur di ISL 2014
sumber: goal.com

Berdasarkan status kewarganegaraan pemain, 374 gol dicetak oleh pemain berpaspor Indonesia, yang termasuk pemain-pemain naturalisasi seperti Greg Nwokolo dan Cristian Gonzales. Samsul Arif (Arema) menjadi pemain lokal paling produktif di ISL 2014 dengan raihan 16 gol. 302 gol sisanya dicetak oleh pemain asing dengan Kenmogne sebagai top scorer.

 

Berdasarkan posisi pemain yang dipisahkan ke dalam 3 kelompok: pemain belakang, pemain tengah, dan pemain depan, 76 gol atau sekitar 11% dari total 676 gol dicetak oleh pemain belakang. Pemain Tengah mencetak 229 gol atau sekitar 34%, sementara pemain depan mencatat 371 gol atau sekitar 55%.

Vladimir Vujovic (Persib) menjadi pemain belakang dengan gol terbanyak. Pemain asal Montenegro itu total mencetak 6 gol, yang 2 diantaranya dicetak dari titik penalti. Sementara rekan Vujovic, Makan Konate, menjadi pemain tengah terproduktif di musim lalu dengan torehan 13 gol (5 penalti).

Vladimir Vujovic dan Makan Konate Bek dan Gelandang Tersubur ISL 2014 sumber: simamaung.com dan bolaskor.com

Vladimir Vujovic dan Makan Konate
Bek dan Gelandang Tersubur ISL 2014
sumber: simamaung.com dan bolaskor.com

Angka statistik rekapitulasi gol ISL 2014 berdasarkan periode terciptanya gol menunjukkan klub-klub peserta cenderung “telat panas.” Sebanyak 144 atau sekitar 21% gol dicetak di 15 menit terakhir babak kedua, tepatnya antara menit ke-75 hingga pertandingan usai. Dalam interval yang sama di babak pertama, tepatnya antara menit ke-30 hingga babak pertama usai, tercatat ada 121 gol atau sekitar 18%. Interval yang paling sedikit memproduksi gol adalah 15 menit pertama babak pertama, di mana hanya ada 80 gol atau sekitar 12% gol tercipta.

Lukas Mandowen dan Boaz Solossa Pencetak Gol Pertama dan Terakhir di ISL 2014 sumber: bolabanget.com dan indopos.co.id

Lukas Mandowen dan Boaz Solossa
Pencetak Gol Pertama dan Terakhir di ISL 2014
sumber: bolabanget.com dan indopos.co.id

Gol pertama musim lalu dicetak oleh Lukas Mandowen untuk Persipura, tepatnya di laga pembuka ISL 2014 melawan Persela pada 1 Februari 2014. Pemain mungil Tim Mutiara Hitam tersebut mencetak gol di menit ke-30 dan membantu Persipura menang 3-0. Jika eksekusi Achmad Jufriyanto di babak adu penalti tidak dihitung, gol terakhir ISL 2014 menjadi milik Boaz Solossa, yang mencetak gol penyama kedudukan di menit ke-79 di partai final.

 

Rekapitulasi Gol ISL 2014 klik gambar untuk memperbesar

Rekapitulasi Gol ISL 2014
klik gambar untuk memperbesar

Oleh Pramuaji Ajay
@PramuajiAjay

posted by on Profile

No comments

14 Juni 2002, Incheon Munhak Stadium, pertandingan lanjutan babak penyisihan Grup D Piala Dunia 2002 mempertemukan tuan rumah Korea Selatan berhadapan dengan generasi emas Portugal yang berisikan Luis Figo, Pedro Pauleta, Rui Costa dan Sergio Conceicao di fase grup. Pertandingan berjalan alot, kedua tim saling menyerang silih berganti. Keduanya sangat membutuhkan kemenangan, Korea Selatan ingin memastikan diri sebagai juara grup agar bisa menghadapi lawan yang lebih mudah di fase gugur, sementara Portugal wajib menang agar bisa lolos ke babak 16 besar sekaligus menggeser Amerika Serikat yang berbeda selisih satu poin di peringkat kedua.

Setelah bermain dengan skor kacamata di babak pertama, kedua tim masih kesulitan untuk membongkar pertahanan lawan. Hingga pertengahan babak kedua, banyak yang menyangka bahwa pertandingan akan berakhir imbang, hingga pada menit 70, momen ajaib itu terjadi.

Menerima umpan silang dari Lee Young-Pyo dari sisi kanan pertahanan Portugal, Park Ji-Sung mengontrol bola dengan dada lalu melakukan sebuah flip untuk mengecoh Conceicao. Park kemudian melepaskan tendangan voli kaki kiri yang meluncur deras di sela kaki penjaga gawang Vitor Baia, sebelum akhirnya menggetarkan gawang Portugal. Sebuah gol indah yang bahkan membuat Presidan Korea Selatan saat itu Kim Dae-Jung kegirangan.

Park Ji Sung's Outstanding Goal Against Portugal Source: londonkoreanlinks.net

Park Ji Sung Merayakan Golnya ke Gawang Portugal di Piala Dunia 2002
Source: londonkoreanlinks.net

Gol itu menjadi satu-satunya gol, yang terjadi pada pertandingan tersebut. Korea Selatan menjadi Juara Grup, dan Portugal harus kembali mengubur mimpinya dan kembali ke Lisbon lebih awal.

Kejutan Park Ji-Sung tidak hanya sampai di sana. Pada Piala Dunia yang pertama kali diadakan di Asia tersebut, Park dan Korea Selatan berhasil mengandaskan dua kekuatan sepak bola dunia, yakni Italia dan Spanyol di babak 16 Besar dan perempatfinal. Sampai akhirnya laju Korea Selatan terhenti di semifinal setelah dikalahkan Jerman dengan skor tipis 1-0.

Setelah turnamen usai, nama gelandang enerjik kelahiran Goheung, distrik Jeollanam ini semakin menggema. Performanya di Liga Champions Eropa bersama PSV Eindhoven juga tidak kalah mengesankan. Yang paling diingat tentunya saat PSV bertemu AC Milan di leg ke-2 semifinal edisi 2004-2005. Di pertandingan tersebut Park mencetak satu gol yang hampir saja meloloskan PSV ke partai puncak.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Juli 2005, Salah satu tim tersukses Inggris, Manchester United (MU), memboyong Park dari PSV dengan dana transfer sebesar 4 Juta Pounds. Bergabungnya Park ke skuat Sir Alex Ferguson merupakan momen global bagi sepak bola Asia. Selama 7 musim berkarir di MU, Park ikut andil dalam mempersembahkan 4 gelar Liga Inggris, 4 Piala Liga, 4 Community Shield dan 1 gelar Liga Champions, yang menjadikan Park sebagai pesepakbola Asia pertama yang mengangkat trofi kejuaraan antarklub tertinggi Eropa tersebut.

First Asian to Lift the Champions League Trophy source: sgforums.net

Pemain Asia Pertama yang Mengangkat Trofi Liga Champions Eropa
source: sgforums.net

Sejak memulai debutnya untuk Tim Nasional Korea Selatan pada Olimpiade Sydney tahun 2000, Park menorehkan 100 caps dengan 13 gol. Rekor tersebut membuatnya mengikuti jejak Hong Myung-Bo, yang telah mencapai 100 caps sebelumnya. Pada 31 Januari 2011, Park memutuskan untuk pensiun dari sepak bola internasional, sekaligus meletakkan jabatan kapten tim Daehan Minguk yang ia emban selama 4 tahun.

Beberapa tahun berselang setelah ditinggal Park, performa Korea Selatan seperti kapal yang melaju tanpa arah. Tim Ginseng mulai tampil tidak seimpresif biasanya, meskipun sempat meraih medali perunggu di Piala Asia 2011 dan bermain cukup baik di Olimpiade London 2012. Pada pergelaran Piala Dunia Brasil 2014, semifinalis edisi 2002 ini secara mengenaskan tersisih di fase grup, bahkan menjadi juru kunci.

Ketika Jepang, yang merupakan rival sepak bola terbesar Korea Selatan, mulai memunculkan pemain-pemain berbakat seperti Shinji Kagawa, Keisuke Honda dan Yuto Nagatomo, Korea Selatan tampak kehabisan stok pemain bintang.

Belum lama ini, harapan untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Korea Selatan kembali muncul. Adalah kapten tim Korea Selatan saat ini Ki Sung-Yueng dan ‘Cristiano Ronaldo-nya Asia’, Son Heung-Min yang dianggap mampu meneruskan kejayaan Three Lungs Park yang fenomenal.

Ki Sung Yueng, Tipe Gelandang Asia Yang Jarang Ada

Ki Sung-yueng source: koreanjoongangdaily.joins.com

Ki Sung-yueng
source: koreanjoongangdaily.joins.com

Secara penampakan umum, gelandang asal Asia terkenal enerjik, memiliki pergerakan cepat, dan semangat pantang menyerah. Tetapi Ki adalah tipe pemain yang berbeda. Sejak memulai debut tim nasional pada Kualifikasi Piala Dunia 2010, tepatnya pada 7 Juni 2008, Ki dikenal sebagai pemain yang memiliki visi, long-range pass yang akurat, dan juga piawai mengambil tendang bebas.

Passing adalah senjata utama pemain kelahiran 24 Januari 1989 ini, seperti yang dilansir whoscored.com rataan passing sukses Ki adalah 89,9%, lebih tinggi dibandingkan Kapten Jepang yang berposisi sama dengan Ki, Makoto Hasebe, yang memiliki rataan passing sukses 76% per pertandingan. Selain itu, Ki juga mencatat rata-rata 56,8 passing dalam setiap pertandingannya. Penampilan Ki jugalah yang membuat klubnya saat ini, Swansea City selalu tampil mengejutkan di Liga Inggris.

Salah satu penampilan terbaik Ki bagi Korea Selatan adalah di babak perempat-final Olimpiade London 2012. Melawan tuan rumah Britania Raya, Ki berhasil meredam pergerakan Aaron Ramsey, dan juga berhasil menuntaskan tugasnya sebagai penendang penentu pada babak adu penalti. Sebuah sepakan keras ke sudut kiri atas gawang Jack Butland mengubur impian Britania Raya lolos ke babak selanjutnya.

Kini Ki menjabat sebagai kapten tim Korea Selatan setelah Uli Stielke mengambil alih posisi pelatih dari Hong Myung-Bo pada September 2014.

Son Heung-Min, Cristiano Ronaldo dari Asia

Son Heung-min source: heraldsun.co.au

Son Heung-min
source: heraldsun.co.au

Dribbling penuh teknik, cut inside ke kotak penalti, dilanjut dengan tendangan keras merupakan ciri khas dari pemain terbaik dunia 2014, Cristiano Ronaldo. Trademark tersebut juga merupakan ciri yang dimiliki oleh Son Heung-Min, bintang Korea Selatan yang saat ini bermain untuk klub Jerman, Bayern Leverkusen.

Penyerang sayap kelahiran Gangwon pada 8 Juli 1992 ini terkenal dengan dribbling dan kecepatannya. Pada Piala Dunia 2014 lalu saja, Sonny, sebagaimana ia biasa disapa, merupakan pemain dengan dribble sukses terbanyak, yaitu 9 kali. Ia juga mencetak 1 gol ke gawang Aljazair. Setelah melepaskan diri dari penjagaan bek Aljazair, Son melepaskan tendangan kaki kiri yang meluncur deras ke gawang Rais Mbolhi. Sayang, gol tersebut tidak dapat membantu Korea Selatan lolos ke babak selanjutnya.

Di saluran resmi Bundesliga di situs Youtube, terdapat rangkuman 5 gol terbaik Son. Di video tersebut, tampak dribbling dan kecepatan yang dimiliki Sontastic adalah sesuatu yang impresif, termasuk bagaimana dirinya mencetak gol ke gawang Borussia Dortmund, setelah berlari kencang lalu melepaskan left-foot strike ke gawang Roman Weidenfeller. Wajah imut dan tampan yang dimiliki oleh Son layaknya personel boyband asal Korea Selatan juga merupakan nilai tersendiri yang membuatnya dikagumi kaum hawa.

Berbeda dengan peran di Leverkusen sebagai penyerang sayap, sejak memulai debut pada 7 Oktober 2011 di Tim Nasional Korea Selatan, Son ditempatkan sebagai striker tunggal.

***

Ki dan Son jelas punya posisi, ciri khas, dan gaya bermain yang berbeda. Namun kedua pemain tersebut berpotensi menjadi pewaris prestasi dan kebintangan Park Ji-Sung. Son bermain di posisi yang kurang-lebih sama dengan Park. Ia juga memiliki determinasi dan work rate yang sebanding dengan Park. Sementara Ki memiliki popularitas yang lebih tinggi di Korea Selatan ketimbang Son. Selain itu, Ki merupakan penerima estafet kepemimpinan sebagai kapten Tim Nasional.

Ki and Son, the Future of South Korean Football source: iamkoream.com

Ki and Son, the Future of South Korean Football
source: iamkoream.com

Keduanya mengemban tugas untuk mengembalikan kejayaan Korea Selatan seperti pendahulunya. Bukan tidak mungkin kedua pemain tersebut dapat melampaui prestasi Park. Target terdekat adalah final Piala Asia pada Sabtu, 31 Januari mendatang, ajang yang tidak pernah Park menangkan sampai dirinya pensiun sekalipun. Kita tunggu saja aksi-aksi Ki dan Son bersama prajurit Taeguk lainnya di partai puncak Piala Asia 2015.

Daehan Minguk! Clap! Clap! Clap!

Ditulis oleh Aun Rahman
@aunrrahman
http://aunrahman.tumblr.com/

posted by on Profile

No comments

Germany v Austria - EURO 2012 Qualifier

source: completesportsnigeria.com

Inthe first 4 editions after the FIFA World Player of the Year and the Ballon d’Or awards were merged in 2010, there was never a goalkeeper whom got nominated into the last 3 contenders. Finally in 2014, Manuel Neuer of Germany became the first man between the posts who successfully entered the 3-horses race for the FIFA Ballon d’Or Award.

It won’t be easy for Neuer to win the award, though, considering his opponents are the regulars: Lionel Messi and Cristiano Ronaldo. However, Neuer’s success on winning the 2014 FIFA World Cup could be advantageous for the Bayern goalkeeper. After all, Neuer’s Germany beat Ronaldo’s Portugal and Messi’s Argentina in the event. This success can be considered equal Lev Yashin achievement, the one and only goalkeeper before Neuer who winning UEFA Ballon d’Or back in 1963.

The eyes can easily monitor Neuer’s qualities. His remarkable saves surely among them. He also likes to charge outside the penalty’s box to secure his area, which is not only another one of his quality, but also quite the entertainment for the viewers. His performance amplified new definition of modern goalkeeper as not only the one who responsible as goal guardian but as one of important outfield player as well. This matter might outcome new approach in the future of goalkeeper coaching method.

To show how special Neuer is, we will share his statistical numbers that we collected during the 2014 FIFA World Cup. Here they are:

343
Total number of actions done by Neuer in which his hands were not involved. The number resulted in 71% out of his total actions throughout the tournament. Only 29% out of his total actions in which his hands were involved. Quite low for a goalkeeper.

220
Total number completed pass sent by Neuer throughout the competition. The number resulted in 82% pass accuracy. Passing was also Neuer’s most frequent action, which amounted in 56% out of his total actions. Maintaining possession also one objective in Neuer passes action as 72% of his attempts are short passes.

129
Total number of passes received by Neuer throughout the competition. The number resulted in 29% out of his total actions, his second-most frequent action.

24
Total number of saves made by Neuer in 7 matches in the competition. Only 3 teams managed to score against Neuer: Ghana (2 goals), Algeria (1 goal) and Brazil (1 goal).

7
Total number of defense actions done by Neuer throughout the competition. The number resulted in only 1% out of his total actions, his least-frequent action. Those 7 defense actions in details are 5 clearances, 1 tackle, and 1 pass interception. He did all of those with no hand. Nonetheless the few numbers, not many goalkeeper able to perform defense action in every match.

Here are the more detailed facts on Manuel Neuer’s performance in the 2014 FIFA World Cup (click on image to enlarge):

1 Thailand-Malaysia