posted by on Analysis, News

No comments

Derby Bandung edisi ke-4 di Indonesia Super League (ISL) musim 2014 yang tersaji dalam partai pamungkas Grup L Babak 8 Besar akhirnya dimenangkan oleh Pelita Bandung Raya (PBR) dengan skor 2-1. Hasil tersebut mengantarkan Bambang Pamungkas dkk. ke babak semifinal ISL 2014 sebagai runner-up Grup L.

Babak 1
Persib tetap menurunkan formasi terbaiknya dengan pengecualian posisi striker yang kali ini ditempati oleh Djibril Coulibaly. Pelatih Djadjang Nurjaman tetap menginstruksikan anak asuhnya untuk meraih 3 poin di laga ini meskipun sudah mengamankan tiket ke semifinal. Sementara PBR yang butuh kemenangan untuk bisa lolos ke semifinal juga turun dengan kekuatan penuh.

Laga di babak pertama cenderung dikuasai oleh Persib yang bertindak sebagai tim tamu. Beberapa peluang diciptakan oleh Tim Maung Bandung bahkan di menit-menit awal pertandingan. Beruntung tembakan Firman Utina masih bisa dimentahkan oleh Dennis Romanovs.

Permainan keras ditunjukkan oleh kedua tim sejak menit awal. Masing-masing tim tercatat melakukan 7 kali pelanggaran di babak pertama. Gelandang Persib, Taufiq, sampai harus menerima kartu kuning di menit ke-42 setelah melanggar Imam Pathuroman.

PBR hanya sesekali mencoba keluar menyerang ke jantung pertahanan Persib. Namun kokohnya lini belakang Persib yang dikawal oleh Vladimir Vujovic dan Achmad Jufriyanto membuat PBR mengakhiri babak pertama tanpa 1 pun tembakan yang mengarah ke gawang I Made Wirawan. Di sisi lain, Persib berhasil melakukan 3 shoot on target, namun semuanya berhasil ditahan oleh Dennis Romanovs. Babak pertama berakhir dengan skor 0-0.

Babak 2
PBR masih tetap memilih untuk bermain bertahan di babak ke-2 dengan strategi serangan balik. Strategi tersebut terbukti ampuh ketika di menit ke-52, umpan silang Wildansyah yang gagal diantisipasi oleh Achmad Jufriyanto menciptakan kemelut di depan gawang Persib. Bola sundulan Jufriyanto yang sebelumnya menghantam tiang gawang I Made Wirawan disambar masuk oleh Kim Jeffrey Kurniawan dan mengubah skor menjadi 1-0 untuk PBR. Gol tersebut menjadi gol kedua Kim Jeffrey ke gawang Persib di ISL 2014.

Ketinggalan 1 gol membuat Persib menjadi semakin agresif dalam melakukan serangan. Djibril Coulibaly yang bermain kurang maksimal digantikan oleh Tantan di menit 54. Setelah Tantan masuk hingga menit ke-75, tercatat Persib melakukan 3 kali shoot on target oleh Firman Utina, Taufiq, dan Makan Konaté. Namun Dennis Romanovs bermain gemilang dengan menahan gempuran-gempuran pemain Persib dan menjaga skor tetap 1-0.

Di menit 73, Dejan Antonic menarik keluar T. A. Mushafry dan menggantikannya dengan Wawan Febrianto. Pergantian tersebut berujung positif setelah pada menit ke-80 PBR mendapat tendangan bebas tepat di luar kotak penalti Persib pelanggaran Hariono terhadap David Laly. Tendangan bebas melengkung Wawan berhasil merobek jala I Made Wirawan, dan menambah keunggulan PBR menjadi 2-0.

Setelah gol tersebut, PBR menerapkan strategi ultra-defensif untuk menjaga keunggulan, sementara Persib bermain ultra-ofensif untuk mengejar ketertinggalan. Bek Vladimir Vujovic sampai bermain jauh ke depan sebagai striker untuk membantu lini serang Persib. Di sisi lain, PBR menumpuk semua pemainnya di wilayah mereka.

Serangan bertubi-tubi Persib akhirnya membuahkan hasil di menit ke-82. Umpan silang Atep dari sisi kiri pertahanan PBR gagal diantisipasi oleh Bambang Pamungkas, yang justru mengarahkan sundulannya ke gawang Dennis Romanovs. Untuk pertama kali selama karirnya, BePe mencetak gol untuk Persib, dan skor berubah menjadi 2-1.

Untuk menambah daya gedor, Djadjang Nurjaman memasukkan striker muda Rudiyana menggantikan Hariono di menit ke-85.  Rudiyana sempat mencetak gol setelah menerima umpan Supardi, namun gol itu dianulir karena Supardi ternyata berada di posisi offside sebelum mengirim umpan. Hingga peluit panjang dibunyikan, Persib tetap gagal menambah gol dan harus mengakui keunggulan PBR.

Statistik PBR vs Persib, 30 Oktober 3014

Statistik PBR vs Persib, 30 Oktober 3014

***

Menyadari materi pemain yang dimiliki berada di bawah lawannya, pelatih PBR, Dejan Antonic menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain bertahan dan menunggu peluang untuk melakukan serangan balik. Strategi tersebut berhasil membawa kemenangan bagi PBR karena lini pertahanan PBR bermain sangat disiplin dalam menjaga dan menahan serangan pemain-pemain Persib. Penampilan gemilang Dennis Romanovs juga sangat berperan dalam strategi ini, di mana kiper asal Latvia tersebut total melakukan 8 saves selama pertandingan.

Dominasi Persib tampak pada angka persentase penguasaan bola mereka – 62%. Namun upaya Persib untuk mencetak gol digagalkan kokohnya tembok pertahanan berlapis yang dibangun PBR. Selama pertandingan, Boban Nikolic dkk. tercatat melakukan 23 clearances, 2 shot blocks, dan 13 tackle dengan persentase sukses 52%.

Pencapaian PBR dapat dikatakan mengejutkan, mengingat mereka bukanlah tim yang diunggulkan untuk bersaing dengan tim-tim lain yang memiliki skuad dan sejarah panjang. Namun anggapan tersebut dienyahkan oleh PBR dengan penampilan konsisten dan semagat juang tinggi sepanjang musim. Pencapaian tim yang di musim kompetisi ISL 2013 lalu harus memainkan laga play-off promosi-degradasi ini patut diacungi jempol. Bermaterikan kombinasi pemain tua-muda di setiap lini dan racikan strategi efektif dan efisien dari Dejan Antonic, PBR berhasil melenggang ke semifinal ISL 2014.

Mungkinkah ada Derby Bandung edisi ke-5 di ISL 2014?

posted by on Uncategorized

No comments

Salah satu laga pamungkas dari Grup K di Babak 8 Besar Indonesia Super League (ISL) 2014 antara Semen Padang melawan Arema Cronus berakhir dengan hasil imbang 2-2. Hasil tersebut terasa pahit bagi Semen Padang yang harus menghentikan perburuan gelar juara ISL karena raihan poin mereka disusul oleh Persipura, yang di laga lain berhasil menghempaskan tuan rumah Persela dengan skor 4-1. Dengan demikian, 2 tim yang lolos ke semifinal ISL 2014 dari Grup K adalah Persipura sebagai juara grup dan Arema sebagai runner-up.

Statistik Semen Padang vs Arema Cronus 29 Oktober 2014

Statistik Semen Padang vs Arema Cronus
29 Oktober 2014

Babak 1
Laga diawali dengan keputusan kontroversial wasit yang bahkan tidak memberikan tendangan bebas kepada Semen Padang menyusul terjangan keras Kurnia Meiga terhadap Osas Ikpefua di depan kotak penalti Arema. Dalam insiden tersebut, Kurnia Meiga juga bertindak sebagai pemain terakhir dalam situasi 1-on-1, yang jika wasit Novari Ikhsan lebih jeli dalam melihat kejadian, kiper Arema tersebut bisa saja mendapat kartu merah. Protes pemain Semen Padang tetap tidak membuat wasit bergeming.

Arema yang di laga tersebut hanya butuh hasil imbang untuk memastikan tiket ke semifinal unggul lebih dulu melalui sundulan Alberto “Beto” Goncalves yang memanfaatkan umpan sepak pojok Ahmad Bustomi di menit ke-7. Keputusan wasit yang merugikan, ditambah dengan hadirnya gol Beto membuat ritme permainan Semen Padang terganggu. Eka Ramdani dkk. tercatat melakukan 51 kali kesalahan passing dan 11 kali kehilangan penguasaan bola selama babak pertama.

Gelandang Semen Padang yang tampak lebih fokus menyerang menyebabkan celah antara lini belakang dengan lini tengah mereka menjadi terbuka. Sementara Arema bermain rapat di tengah, di mana mobilitas Juan Revi dan I Gede Sukadana mampu menahan serangan Semen Padang sebelum bisa masuk ke jantung pertahanan. Pertahanan solid Arema dibuktikan dengan 5 kali tackling yang berhasil dari 6 percobaan. Serangan balik Arema juga beberapa kali merepotkan barisan pertahanan Semen Padang. Kombinasi trio Cristian Gonzales, Beto, dan Gustavo Lopez membuat Fakrurrazi harus 2 kali membuat penyelamatan gemilang.

Ricky Ohorella dan Hendra Bayaw sesekali menyerang sisi kiri pertahanan Arema dengan mengandalkan kecepatan. Namun sayangnya umpan-umpan silang yang mereka kirimkan dapat dengan mudah dimentahkan oleh barisan belakang Arema.

Babak pertama berakhir dengan kedudukan 1-0 untuk Arema.

Babak 2

Pelatih Jafri Sastra memasukkan M. Nur Iskandar menggantikan Rudy untuk menambah daya gedor Semen Padang tepat setelah istirahat. Kehadiran mantan striker Persibo tersebut terbukti membuat pertahanan Arema menjadi lebih waspada. Dalam kurun waktu 5 menit pertama babak ke-2, lini belakang Arema melakukan 2 kali pelanggaran di depan kotak penalti mereka. M. Nur Iskandar yang menjadi eksekutor free kick bagi Semen Padang gagal membobol gawang Meiga pada percobaan pertama. Namun di percobaan kedua, pemain bernomor punggung 17 tersebut berhasil menaklukkan Meiga dengan tembakan bebas melengkung. Skor menjadi 1-1 di menit ke-51.

Gol tersebut melecut semangat Tim Kabau Sirah untuk bermain lebih ofensif demi mengejar gol. Osas Marvelous yang bermain kurang maksimal pun digantikan oleh Airlangga di menit ke-57. Sementara Arema mencoba bermain lebih bertahan dengan memasukkan Hendro Siswanto menggantikan Ahmad Bustomi di menit ke-62. Sebelumnya, Beto yang cedera harus ditarik keluar dan digantikan oleh Samsul Arif di menit ke-59.

Sayangnya, celah yang menganga antara lini tengah dan lini belakang akhirnya dimanfaatkan secara maksimal oleh Arema. Setelah memenangkan perebutan bola di lini tengah, Purwaka Yudi mengirim umpan panjang ke jantung pertahanan Semen Padang kepada Gonzales, yang dengan dingin melepaskan tembakan ke pojok kiri bawah gawang Fakrurrazi. Arema kembali unggul dengan skor 2-1 di menit ke-64.

Sisa laga menyajikan Semen Padang yang bermain keluar menyerang ke pertahanan Arema yang bermain defensif. Melihat lini tengah Arema yang kokoh, Semen Padang mulai membangun serangan lewat sektor sayap. Hingga menit ke-80, tercatat Semen Padang mengirimkan 8 kali umpan crossing. Hasilnya di menit 83, umpan silang rendah Novan Setya ke jantung pertahanan Arema berhasil dimanfaatkan oleh Airlangga yang berhasil melepaskan penjagaan Purwaka dan menceploskan bola ke gawang Meiga dan mengubah skor menjadi 2-2.

Di detik-detik terakhir pertandingan, kembali terjadi insiden kontroversial yang melibatkan Victor Igbonefo dan Esteban Vizcarra. Dalam posisi offside, Vizcarra menerima umpan dan kemudian dijatuhkan oleh Igbonefo di dalam kotak penalti. Hakim garis tidak memberikan tanda offside dan wasit Novari Ikhsan juga tidak memberikan penalti kepada Semen Padang. Keputusan tersebut kembali menuai protes dari beberapa pemain Semen Padang hingga menyulut aksi pelemparan obyek oleh penonton. Namun tidak ada keputusan lebih lanjut dari wasit selain membiarkan pertandingan berlanjut dan akhirnya berakhir dengan hasil 2-2.

***

Hasil tersebut membuat langkah Semen Padang terhenti di Babak 8 Besar ISL 2014. Namun, perjalanan panjang mereka selama babak penyisihan wilayah hingga Babak 8 Besar patut diapresiasi. Dengan materi pemain yang tidak terlalu glamor, anak asuh Jafri Sastra mampu menyulitkan tim-tim lain dengan skuad mentereng seperti Arema, Persib dan bahkan Persipura. Semen Padang kalah secara terhormat. Salut untuk Tim Kabau Sirah. Semoga sukses di musim-musim berikutnya.

posted by on Infographic, News

No comments

Sebagai benua terbesar di dunia dengan bermacam keanekaragaman, Asia memiliki peran yang cukup penting dalam dunia sepak bola internasional secara umum. Benua Asia pernah menjadi pasar yang sangat menjanjikan bagi ekspansi industri sepak bola dari negara-negara maju, khususnya negara-negara Eropa. Sebagai contoh, angka audiensi (pemirsa) televisi siaran kompetisi Liga Primer Inggris (EPL) di Asia mencapai lebih dari 30%. Di musim 2011/12, jumlah fans klub-klub EPL di Asia mencapai angka 240 juta dari total 815 juta fans sepak bola di Asia dan benua Oseania berdasarkan data dari Sports Markt’s. Di sisi lain, sepak bola Asia sendiri mulai beranjak ke tingkat yang lebih maju terkait industri sepak bola professional. Faktanya, 22 tahun yang lalu Jepang belum memiliki kompetisi liga profesional. Bahkan sepak bola bukanlah cabang olah raga yang populer di negara tersebut. Namun di tahun 2002, FIFA sudah bisa mempercayai penyelenggaraan ajang Piala Dunia di Jepang, yang menjadi co-host bersama Korea Selatan. Sekarang, Jepang menjadi tim Asia dengan posisi tertinggi di ranking FIFA, dengan lebih dari 20 pemain asal Negeri Matahari Terbit yang bermain di klub-klub profesional top di luar negeri. Namun, di luar pencapaian Jepang, pembangunan sepak bola di Asia dalam hal pelaksanaan kompetisi liga dan tata kelola klub profesional dalam skala nasional belum berkembang secara merata di seluruh negara anggota AFC.

Sebagai badan tertinggi yang membawahi sepak bola di Asia, Konfederasi Sepak bola Asia (AFC) telah menyusun beberapa rencana dan agenda untuk membawa sepak bola Asia ke arah yang lebih maju. Salah satu agenda penting yang perlu terus ditunjang adalah implementasi dan pelaksanaan kompetisi regional di tingkat antar-negara dan tingkat antar-klub internasional. Pada tingkat antar-negara, AFC kini menjadwalkan pelaksanaan ajang Piala Asia setiap 4 tahun sekali. Selain itu, tidak seperti konfederasi lain, AFC juga mendorong negara-negara anggotanya untuk menyelenggarakan kompetisi sub-regional antar-negara di bawah federasi induk sub-regionalnya masing-masing. Tiap sub-regional AFC: Asia Tenggara, Asia Timur, Asia Tengah/ Selatan, dan Asia Barat hingga sekarang masih melaksanakan kompetisi sub-regional di wilayahnya masing-masing tanpa mengganggu kalender tahunan FIFA.

Pada tingkat antar-klub internasional, AFC memiliki 2 kompetisi besar: Liga Champions Asia (LCA) dan Piala AFC. Tidak jauh berbeda dengan sistem yang dianut di Eropa, peserta kompetisi LCA dan Piala AFC adalah klub-klub terbaik yang mewakili negaranya masing-masing. Tim terbaik yang berhak mengikuti ajang antar-klub AFC adalah klub perwakilan masing-masing negara anggota yang mengacu pada jatah slot berdasarkan standar AFC, yang umumnya menjadi jatah juara liga atau tim di posisi 3 teratas di kompetisi liga. Juara LCA akan mendapat kehormatan untuk mewakili Asia di ajang Piala Dunia Antar-Klub FIFA.

Namun, jika kita lihat daftar negara yang pernah menjuarai ajang Piala Asia, distribusi juara di sepak bola Asia condong mengarah ke 2 sub-region: Timur dan Barat. Hanya ada 6 negara anggota AFC sekarang yang pernah memenangi Piala Asia sejak pertama kali diselenggarakan tahun 1956: Jepang (4 kali) dan Korea Selatan (3) yang keduanya berasal dari Federasi Sepak Bola Asia Timur (EAFF), lalu Arab Saudi (3), Iran (3), Kuwait (1), dan Irak (1) yang mewakili Federasi Sepak Bola Asia Barat (WAFF).

Hal yang tidak jauh berbeda terjadi di level antar-klub internasional. Sejak edisi 2002/03, trofi LCA hanya berpindah-pindah negara di wilayah Barat dan Timur Benua Asia. Dalam 11 penyelenggaraan terakhir, klub-klub dari negara-negara anggota WAFF memenangi LCA sebanyak 4 kali, sementara 7 sisanya dimenangkan oleh klub-klub dari negara-negara anggota EAFF. Sementara untuk Piala AFC, klub-klub dari negara-negara anggota WAF sangat mendominasi perolehan juara sejak penyelenggaraan pertama kejuaraan tersebut di tahun 2004. 10 edisi Piala AFC dimenangi oleh klub-klub dari negara-negara anggota WAFF, dan hanya sekali ajang tersebut dimenangi jatuh ke klub dari negara non-WAFF, ketika FC Nasaf dari Uzbekistan menjadi juara di tahun 2011.

Oleh karena itu, guna memperkecil jurang perbedaan prestasi dan pencapaian antar sub-regionalnya, juga untuk memajukan pembangunan sepak bola di seluruh Asia, AFC meluncurkan beberapa program pengembangan yang dimulai dari level klub, yang merupakan inti tata kelola sepak bola profesional di taraf nasional.

Program Kick-Off AFC

Program Kick Off adalah program pengembangan yang ditujukan secara eksklusif untuk peningkatan tata kelola klub profesional dan kompetisi liga di negara anggota AFC. Program ini pertama kalinya diluncurkan di 11 negara anggota – Bangladesh, Iran, Jordania, Malaysia, Myanmar, Oman, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Uni Emirat Arab dan Yaman. Fokus dari program ini adalah bantuan di bidang manajemen/ marketing kompetisi lokal di negara peserta program ini, juga klub-klub pesertanya. Program ini juga didukung oleh FIFA dan UEFA dalam implementasinya. Tenaga ahli dari berbagai bidang dikirimkan untuk ikut terlibat dalam program. Layanan yang disediakan dari program ini termasuk perencanaan strategis, konsultasi, mentoring, seminar, juga kunjungan dari Eksekutif AFC.

Salah satu keunggulan khusus yang diberikan oleh Program Kick-Off adalah penekanan pada penguatan tata kelola klub dan kompetisi liga di setiap negara-negara anggota dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang ada. Oleh karena itu, program ini akan menyusun solusi mandiri berkesinambungan yang disesuaikan bagi masalah-masalah yang dikemukakan oleh negara anggota dalam pengelolaan kompetisi lokalnya masing-masing.

Layanan program ini mencakup beberapa bidang dari tingkat manajemen hingga tingkat individu. Penyelenggaraan kompetisi liga dan tata kelola klub ada pada tingkat manajemen, sementara player support ada pada tingkat individu. Sinergi dari tiap tingkat ditujukan untuk terlaksananya kompetisi liga dengan tata kelola dan implementasi yang lebih baik Negara anggota yang mendaftar untuk mengikuti program ini juga akan mendapat insentif keuangan dengan besaran maksimal $20,000 per proyek per tahun. Hingga kini, ada 20 negara anggota AFC yang sudah mengikuti program ini, dan AFC pun masih mendorong negara-negara lain untuk mendaftar.

click on image to enlarge

click on image to enlarge

AFC berharap program ini dapat mempersempit jurang pembangunan sepak bola di Asia seiring berjalannya waktu, terutama di tingkat klub. Dengan kondisi yang lebih kompetitif di antara negara-negara anggota AFC pada tingkat nasional dan tingkat klub, sepak bola Asia mampu melangkah lebih maju secara global di masa mendatang. Sesuai dengan slogan yang dianut oleh AFC, “The future is Asia.”

http://labbola.com/pembesar-penis.html
pembesar penis