posted by on Profile, Recapitulation

No comments

Nil Maizar, Pelatih Muda Berbakat sumber: harianterbit.com

Nil Maizar, Pelatih Muda Berbakat
sumber: harianterbit.com

Nil Maizar dan Semen Padang adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Nil adalah salah seorang punggawa Semen Padang di era 1990-an. Pria kelahiran Payakumbuh ini dulunya merupakan pemain bertahan andalan Kabau Sirah. Selepas gantung sepatu sebagai pesepak bola, Nil pun melanjutkan karir kepelatihannya masih di lingkungan Semen Padang. Sempat menjadi pelatih tim junior dan asisten beberapa pelatih Kabau Sirah. Di musim 2010 akhirnya Nil memulai debutnya sebagai pelatih kepala, saat keikutsertaan perdana Semen Padang di Liga Super Indonesia (LSI) 2010/2011.

Setelah sukses bersama Semen Padang, di tahun 2012 panggilan dari PSSI kepadanya untuk mempimpin tim nasional (timnas) Indonesia menuju Piala AFF 2012 diterima Nil. Dengan segala keterbatasan Nil sukses membuat tim tersebut mecuri perhatian sebagian pencinta sepak bola tanah air. Karir Nil di timnas tidak lama, buntut dari kegagalan di AFF dan beberapa faktor lainnya membuat Nil diputus kontrak. Hingga akhirnya, di pertengahan musim LSI 2014 lalu, Nil dipinang oleh Putra Samarinda (Pusam) sebagai pelatih kepala. Karir Nil di tim kebanggaan masyarakat Samarinda tersebut tidak juga bertahan lama, karena pergantian manajerial tim dan perpindahan homebase dari Samarinda ke Bali menjadi alasan dia tak lagi menukangi tim itu. Pada awal musim 2015 ini, Nil pulang ke rumah untuk kembali ke Semen Padang, tim yang sudah membesarkan namanya.

Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengurai perjalanan karir manajerial Nil Maizar, baik itu di kancah klub maupun timnas.

Semen Padang (LSI 2010-2011)
Setelah sukses mengantarkan Semen Padang promosi untuk pertama kalinya ke LSI, Arcan Iurie begitu dipuja-puji publik sepak bola Sumatera Barat. Namun, kontrak pelatih asal Moldova tersebut tidak diperpanjang. Berbagai pertanyaan muncul di kalangan suporter. Tak hanya itu, pengganti Arcan, hanyalah seorang pria dengan nama yang belum akrab di telinga saat itu, Nil Maizar. Beragam pertanyaan dan keraguan mengemuka.

Nil yang di musim sebelumnya hanya menjadi asisten Arcan Iurie dipilih, dikarenakan sudah memiliki sertifikat kepelatihan yang sesuai dengan persyaratan Badan Liga Indonesia (BLI) saat itu, sedangkan Arcan belum.

Sebelum kompetisi digelar, ketidakpercayaan dari suporter diperoleh pria kelahiran 2 Januari 1970 itu. Tapi Nil tetap diam, Nil membuktikannya dengan prestasi yang tak hanya mengejutkan publik sepak bola Padang, tapi juga pencinta sepak bola nasional. Nil sukses mengantarkan tim promosi tersebut mengakhiri kompetisi di peringkat keempat!

Tidak banyak dihuni pemain bintang, Semen Padang di bawah asuhan Nil sukses meraih 12 kemenangan dari 28 pertandingan selama satu musim atau rasio kemenangannya kala itu mencapai 43%. Dalam semusim, Semen Padang sukses mencetak 41 gol. Atau rata-rata di bawah Nil, Kabau Sirah sukses mencetak 1,5 gol per pertandingan. Edward Wilson Junior, penyerang andalan Nil menjadi pencetak gol terbanyak kedua LSI 2011 –di bawah Boaz Solossa–. Wilson sukses mencetak 16 gol.

Sukses Membawa Semen Padang ke Posisi 4 LSI 2011-12 dengan Status Tim Promosi sumber: kabarbola.net

Sukses Membawa Semen Padang ke Posisi 4 LSI 2010-11 dengan Status Tim Promosi
sumber: kabarbola.net

Tidak hanya itu, Nil juga menjadikan Semen Padang sebagai tim dengan jumlah kekalahan tersedikit nomor dua di bawah sang juara, Persipura. Di tahun pertamanya bersama Semen Padang, Nil hanya menderita empat kali kekalahan.

Sebagai mantan pemain belakang, Nil pun juga memberikan pengaruh yang baik bagi pertahanan tim Urang Awak. Total selama satu musim, Semen Padang hanya dibobol 27 kali oleh lawan, atau rata-rata Semen Padang kebobolan 0,96 gol per pertandingan.

Capaian Nil pada tahun pertama sebagai pelatih tidak hanya sampai di situ. Di akhir musim, Nil ditunjuk sebagai pelatih kepala All Stars Team yang akan melakoni pertandingan Perang Bintang melawan Persipura –sebagai juara pada musim itu.

Semen Padang (LPI 2011-2012)
Penampilan gemilang Semen Padang di bawah Nil berlanjut di tahun keduanya. Memilih untuk bermain di Liga Prima Indonesia (LPI), Semen Padang dianggap sebagai salah satu tim terkuat pada kompetisi tersebut.

Di musim keduanya, Nil hanya memimpin timnya bertanding 20 kali, dikarenakan pada April 2012, Nil ditunjuk menjadi pelatih kepala timnas Indonesia. Dari 20 pertandingan yang dilaluinya, Nil membawa Semen Padang menang 11 kali, imbang 7 kali dan dua kali menderita kekalahan. Pada musim tersebut rasio kemenangan Nil meningkat menjadi 55%.

Di pertandingan terakhirnya bersama Semen Padang, yaitu saat melawan Persebaya 1927. Perpisahan Nil dengan suporter pun diwarnai tangisan air mata. Di pertandingan terakhir, Nil sukses mempersembahkan kemenangan 2-1.

Pekerjaan baru diterima Nil. Meski demikian, kompisisi tim yang diwariskan Nil kepada Suhatmam Imam sukses membawa Semen Padang menjadi juara LPI di akhir musim. Meski secara de facto Nil bukanlah pelatih yang memberikan gelar juara tersebut bagi Kabau Sirah. Namun, secara tidak langsung skema yang telah dibangun Nil pada tim yang menjadikan faktor utama Semen Padang bisa menjuarai LPI.

Selama di LPI, Nil dan Semen Padang tampak menjadi suatu kekuatan yang sulit untuk dihentikan. Semen Padang di bawah Nil selama LPI sukses 40 gol dan hanya kebobolan 18 kali. Atau dengan selisih gol mencapai surplus 22.

Timnas Indonesia (2012)

11 Bulan Menukangi Tim Garuda dengan Banyak Permasalahan sumber: bolaindo.com

11 Bulan Menukangi Tim Garuda dengan Banyak Permasalahan
sumber: bolaindo.com

Di tengah ketidakjelasan kondisi persepakbolaan Indonesia saat itu, Nil dengan berani menerima pinangan dari PSSI. Dia membentuk tim yang dipersiapkan untuk AFF 2012. Pekerjaan di timnas ini adalah salah satu pekerjaan tersulit yang pernah dijalani dalam karir kepelatihannya. Nil tidak bisa dengan bebas memilih pemain yang diinginkannya akibat dualisme liga kala itu.

Persiapan timnas di bawah Nil untuk AFF bisa dikatakan punya program yang cukup banyak, PSSI mengadakan berbagai latih tanding bagi timnas dan PSSI pun sempat mengirim timnas mengikuti turnamen Al-Nakbah di Palestina. Total pertandingan persahabatan yang disiapkan PSSI sebanyak 10 kali –termasuk turnamen Al-Nakbah di dalamnya. Dari 10 pertandingan itu, Nil hanya mampu membawa timnas menang dua kali, empat kali imbang dan empat kali kalah.

Di AFF 2012 pun, Nil tidak mampu membawa timnas lolos dari fase grup. Indonesia saat itu kalah bersaing dari Singapura dan Malaysia. Total dari 3 pertandingan AFF, Nil hanya bisa mempersembahkan 4 poin. Hasil dari sekali menang, sekali imbang dan sekali kalah. Dengan total, tiga kali memasukkan gol dan empat kali kemasukkan.

Dengan rasio kemenangan hanya 23%, kegagalan di AFF 2012 serta pergantian beberapa posisi di struktur organisasi PSSI membuat karir Nil tidak bertahan lama. Nil pun akhirnya dipecat pada Maret 2013. Total Nil, hanya 11 bulan menjadi pelatih kepala timnas Garuda.

Putra Samarinda (2014)
Setelah diputus kontrak oleh PSSI, Nil Maizar sempat menganggur dalam waktu yang relatif lama. Sampai akhirnya, pelatih yang sempat menimba ilmu ke Jerman ini ditawari oleh Pusam, untuk mengisi kekosongan posisi pelatih mereka setelah ditinggal oleh Mundari Karya, di akhir putaran pertama LSI 2014.

Di Pusam, target yang diberikan kepadanya tidak terlalu muluk-muluk, Nil ditargetkan membawa Pusam bertahan di LSI. Dalam ketatnya persaingan di Wilayah Timur, Nil menerima tantangan tersebut, dan di akhir musim sukses membawa Pesut Mahakam duduk di posisi enam LSI 2014 Wilayah Timur.

Selama di Pusam, Nil sukses mencatatkan empat kemenangan dari 10 pertandingan, atau 40% dari total pertandingan yang ia lewati sukses ia akhiri dengan tiga angka. Selain itu, Pusam di bawah Nil menderita tiga kali kekalahan dan tiga kali bermain seri.

Kedatangan Nil di Pusam, juga memberi sedikit peningkatan pada sektor pertahanan. Tercatat saat diasuh Mundari Karya, Pusam tercatat kebobolan rata-rata 1,2 gol setiap laga, di tangan Nil angka itu membaik menjadi hanya kebobolan 1 gol setiap pertandingan.

Setengah Musim di Samarinda, Berakhir di Posisi 6 Wilayah Timur LSI 2014 sumber: sidomi.com

Setengah Musim di Samarinda, Berakhir di Posisi 6 Wilayah Timur LSI 2014
sumber: sidomi.com

Di akhir musim, Nil memtuskan untuk tetap bertahan bersama Pusam, meski berbagai godaan datang dari tim besar, seperti: Persipura dan Persija. Nil tidak bergeming, keputusannya bulat untuk bertahan di Samarinda.

Namun keberuntungan tidak berpihak padanya. Setelah Pusam pindah homebase ke Bali dan berganti nama menjadi, Bali United Pusam, kontrak Nil tidak diperpanjang oleh manajemen Bali United. Bali United lebih memilih untuk mengangkat Indra Sjafri sebagai pelatih kepala mereka.

Statistik Kepelatihan Nil Maizar, hingga Awal 2015 klik pada gambar untuk memperbesar

Statistik Kepelatihan Nil Maizar, hingga Awal 2015
klik pada gambar untuk memperbesar

***

Di awal musim 2015, Nil Maizar pun kembali dipanggil untuk melatih tim yang telah membesarkan namanya, Semen Padang. Menyusul rentetan hasil buruk yang diterima Kabau Sirah selama pra-musim, membut manajemen memutus kontrak Jafri Sastra. Nil pun kembali ke kampung halamannya. Bahkan dalam suatu wawancara Nil pernah mengungkapkan bahwa Semen Padang adalah darahnya.

Dengan statistik yang bagus di dua musim awal karir kepelatihannya bersama Semen Padang, mampukah Nil mengulang prestasi tersebut? Demi kebanggaan Ranah Minang.

Oleh Ashiddiq Adha

@kudiak

posted by on Recapitulation

No comments

Bendera Fair Play FIFA sumber: fifa.com

Bendera Fair Play FIFA
sumber: fifa.com

Dalam olahraga, pelanggaran adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Begitu pun dengan sepak bola. Secara universal pelanggaran dalam setiap olahraga berbeda, juga dalam sepak bola. Di sepak bola pelanggaran biasanya dijatuhkan pada pemain yang berusaha menghentikan pergerakan lawan yang cenderung berlebihan di mata wasit. Jika suatu pelanggaran dianggap kelewat kasar di mata wasit, hadiah berupa kartu akan diterima si pelanggar.

Di Liga Super Indonesia (LSI) 2014 lalu, Labbola telah menghimpun hal-hal yang berkaitan dengan tingkah laku para pemain di lapangan. Dari total 227 pertandingan yang digelar di LSI musim lalu, jumlah kartu kuning yang keluar dari saku wasit mencapai 925 kartu, 32 untuk jumlah kartu kuning kedua dan 25 kartu merah langsung. Atau jika dirata-rata 4 kartu kuning dikeluarkan wasit setiap pertandingan. 0,15 kartu kuning kedua per pertandingan dan satu kartu merah keluar setiap 10 pertandingan.

Mengapa Semen Padang dinilai paling santun?

Semen Padang sumber: wikipedia.org

Semen Padang
sumber: wikipedia.org

Dari data yang telah dirinci tersebut, tim Labbola menyepakati gelar tim paling fair dianugerahkan untuk Semen Padang. Kabau Sirah selama satu musim mencatatkan 34 kartu kuning (rata-rata 1,3 kartu kuning setiap pertandingan), sekali kartu kuning kedua dan satu kartu merah. Meski jumlah kartu kuning yang diterima Semen Padang masih lebih banyak ketimbang Barito Putera (30 kali) dan Perseru Serui (33) namun jumlah kartu merah yang lebih sedikitlah yang membuat Tim Urang Awak dinilai lebih santun ketimbang dua tim tersebut. Barito menerima satu kartu kuning kedua dan dua kartu merah langsung. Sementara Perseru empat kali pemainnya dihadiahi kartu kuning kedua.

Jika dilihat dari perspektif pelanggaran rata-rata yang dilakukan setiap pertandingannya, Kabau Sirah sebenarnya tidaklah lebih bagus ketimbang Persebaya (10,9 pelanggaran per pertandingan), Persib (11,82), Persija (12,21), Persepam (12,64), Mitra Kukar (12,69), Barito Putera (13,46) dan Arema (13,54), Semen Padang bahkan melakukan 14,79 pelanggaran setiap satu pertandingan. Namun, kembali lagi pada bahasan awal, hal yang membuat Semen Padang dianugerahi gelar tim dengan tingkah laku tersantun adalah jumlah kartu mereka yang paling sedikit di antara kontestan lain.

Gaya bermain yang diperagakan Kabau Sirah sepanjang musim lalulah yang membuat mereka diganjar penghargaan tersebut. Jafri Sastra musim lalu lebih suka bermain dengan garis pertahanan yang rendah dan tidak begitu gemar melakukan pressing sebelum lawan sampai di garis sepertiga akhir pertahanan mereka. Hal itu meminimalisir jumlah kontak yang dilakukan Semen Padang dengan pemain lawan, sehingga juga menghindari terjadinya pelanggaran. Bahkan satu kartu merah yang diterima Semen Padang didapatkan oleh Hendra Bayauw bukan karena pelanggaran, melainkan karena ia sempat bersitegang dengan pemain Arema, Irsyad Maulana –yang saat ini menjadi rekan satu timnya.

Tim Semen Padang di LSI 2014 sumber: bola.net

Tim Semen Padang di LSI 2014
sumber: bola.net

Untuk personel Semen Padang paling “nakal” adalah Hendra Bayauw dan Yoo Hyun-Goo. Bayauw menerima empat kartu kuning dan satu kartu merah. Sedangkan Yoo diganjar tiga kali kartu kuning dan sekali menerima kartu kuning kedua. Untuk Yoo sendiri hal tersebut dapat dikatakan wajar, karena pemain berpaspor Korea Selatan ini berposisi sebagai gelandang bertahan. Yang tugas utamanya adalah memutus serangan lawan, hadiah kartu adalah konsekuensi atas peran yang ia mainkan.

PBR dan Persiram paling brutal

Perolehan Hukuman Kartu Persiram dan Pelita Bandung Raya di LSI 2014

Perolehan Hukuman Kartu Persiram dan Pelita Bandung Raya di LSI 2014

Jika Semen Padang dianugerahi sebagai tim dengan perilaku paling santun, maka untuk tim paling brutal, gelar itu diperoleh Pelita Bandung Raya (PBR). Semifinalis musim lalu tersebut menerima 65 kartu kuning atau rata-rata 2,4 kartu kuning per pertandingan, tiga kartu kuning kedua dan sekali kartu merah langsung. Dan tim asuhan Dejan Antonic ini melakukan rata-rata 15,91 kali pelanggaran setiap pertandingannya.

Untuk perilaku pemainnya, PBR menempatkan Imam Fathurohman sebagai penerima kartu kuning terbanyak (delapan kali) diikuti oleh bek asal Serbia, Boban Nikolic dengan menerima tujuh kali kartu kuning. Hermawan hadir sebagai pemain penerima kartu kuning kedua terbanyak (dua kali) dan Wildansyah sebagai satu-satunya pemain PBR yang pernah menerima kartu merah langsung.

Jika diperhatikan dari perspektif jumlah pelanggaran per pertandingan maka Persiram Raja Ampat adalah juaranya. Tim yang musim lalu bermarkas di Maguwoharjo rata-rata membuat wasit meniup peluit tanda pelanggaran 18,58 kali, jumlah pelanggaran tersebut yang terkonversi dalam bentuk kartu berjumlah 52 kartu kuning, dua kartu kuning kedua dan dua kartu merah. Lalu diikuti oleh Persita Tangerang sebanyak 18,14 kali per pertandingan dan PSM Makassar dengan rataan 16,82 kali.

Tim Fair Play LSI 2014: Semen Padang klik pada gambar untuk memperbesar

Tim Fair Play LSI 2014: Semen Padang
klik pada gambar untuk memperbesar

***

Musim mendatang format liga yang kembali memakai satu wilayah dan sistem kompetisi penuh serta pergantian pelatih dari Jafri Sastra ke Nil Maizar, mampukah Semen Padang mempertahankan gelar sebagai tim paling fair? Dan di musim yang baru mampukah PBR dan Persiram mereduksi jumlah pelanggaran yang tentunya akan merugikan diri mereka sendiri? Mari kita nantikan bergulirnya LSI 2015.

Oleh Ashiddiq Adha

@kudiak

posted by on Match Analysis, Recapitulation

No comments

Kekalahan telak 0-4 dari Korea Selatan mengubur peluang untuk lolos ke putaran final Piala AFC U-23 2015 sumber: batamnews.co.id

Kekalahan telak 0-4 dari Korea Selatan mengubur peluang untuk lolos ke putaran final Piala AFC U-23 2015
sumber: batamnews.co.id

Indonesia dipastikan tidak lolos ke Piala Asia U-23 tahun depan. Kekalahan 0-4 dari Korea Selatan membuat timnas Garuda harus puas berada di peringkat kedua. Peluang untuk lolos sebagai peringkat 2 terbaik pun akhirnya gagal.

Namun, tim ini tidak lantas bubar begitu saja. Masih ada perhelatan akbar se-Asia Tenggara, SEA Games 2015 yang menanti. Pada ajang multicabang yang digelar di Singapura mulai 5 hingga 16 Juni mendatang itu, anak asuh Aji Santoso dicanangkan bisa meraih medali emas. Jadi, persiapan tetap berjalan terus.

Ada baiknya untuk melakukan evaluasi terkait dengan penampilan timnas U-23 di kualifikasi Piala Asia U-23 yang baru saja selesai. Ini penting untuk memberikan masukan agar ada perbaikan bagi tim yang dikapteni oleh Manahati Lestusen tersebut.

Perlu lebih kreatif dalam melakukan serangan
Banyak yang beranggapan bahwa kita diuntungkan berada segrup dengan Timor Leste dan Brunei Darussalam. Benar kita bisa mengalahkan mereka dengan skor 5-0 dan 2-0. Tapi, tentu itu tak diraih dengan mudah. Terlebih dalam laga melawan Brunei, Muchlis Hadining cs kesulitan menembus pertahanan lawan.

Di sinilah kemudian bisa dilihat bahwa timnas U-23 ini punya cukup potensi di sektor serang. Ada tujuh gol yang mampu dicetak dari tiga pertandingan. Jumlah itu diperoleh dengan melakukan 15 kali tembakan ke arah gawang lawan, 25 tendangan meleset, serta ada 16 tendangan yang meleset.

Untuk laga melawan Timor Leste, lima gol yang hadir berasal dari delapan tembakan tepat sasaran. Kemudian melawan Brunei, barisan penyerang kita melakukan tujuh kali tendangan yang tepat sasaran. Selain itu juga melakukan 20 tendangan melenceng dan 10 tendangan yang mampu diblok lawan.

Dari laga melawan Brunei ini sangat jelas bahwa timnas melakukan banyak percobaan tendangan, terutama dari luar kotak penalti. Hal ini karena Brunei memasang garis pertahanan rendah yang menyulitkan pemain kita sulit menembus pertahanan lawan. Kreativitas masih kurang dalam hal membongkar pertahanan lawan yang bertahan total.

Aji Santoso perlu memikirkan skema lain selain memaksimalkan serangan dari sayap dan percobaan tendangan dari luar kotak ketika penyerangnya kesulitan menembus pertahanan lawan. Ini penting karena pada SEA Games mendatang kita kemungkinan kembali bertemu dengan Brunei, Timor Leste, dan negara Asia Tenggara lain yang disiplin dalam bertahan dan memilih untuk menunggu Indonesia mengambil inisiatif serangan.

Dominan saat melawan tim yang level permainannya masih di bawah sumber: bola.viva.co.id

Dominan saat melawan tim yang level permainannya masih di bawah
sumber: bola.viva.co.id

Organisasi permainan belum terbentuk
Selain pada serangan, organisasi permainan belum sepenuhnya terbentuk. Hal ini nampak pada pertandingan melawan Korea Selatan. Menghadapi lawan yang tangguh, permainan Manahati dan kawan-kawan didikte oleh lawan.

Terus-menerus digempur dengan tempo cepat dan ketika menguasai bola langsung ditekan dengan pressing tinggi. Bagi pemain bertahan, hal ini membuat mereka kelelahan. Sementara ketika pemain mulai menguasai bola, pemain kebingungan untuk mengalirkan bola.

Hal ini berakibat pada minimnya serangan yang bisa dihasilkan. Hanya ada dua percobaan tendangan dan keduanya melenceng. Jumlah umpan juga minim. Hanya melakukan 357 umpan dengan akurasi 77% di mana 276 umpan tepat sasaran dan sisanya gagal menemui rekannya.

Jumlah tersebut jauh jika dibandingkan dua pertandingan sebelumnya. Kala melawan Timor Leste, timnas sempat melakukan 522 umpan dengan akurasi 84,6%. Lalu di laga kedua, 585 umpan dilepaskan dengan akurasi 83,9%.

Benar jika Korea Selatan lebih baik organisasi permainannya jika dibandingkan dengan dua lawan. Tapi, untuk prestasi Indonesia memang perlu mensejajarkan diri dengan tim yang berada di level atas, seperti dengan Korea Selatan. Di SEA Games nanti, Indonesia juga akan bertemu dengan Thailand, Singapura, Malaysia, maupun Vietnam yang organisasi permainannya lebih baik dibanding Brunei Darussalam dan Timor Leste.

Evaluasi menyeluruh sebelum turun di SEA Games 2015, Juni mendatang sumber: liputan6.com

Evaluasi menyeluruh sebelum turun di SEA Games 2015, Juni mendatang
sumber: liputan6.com

Jika ingin meraih medali emas tentu perbaikan ini harus dilakukan. Transisi dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya perlu betul-betul dilatih agar pemain tak kebingungan ketika mulai menguasai bola. Berani mengambil inisiatif mengatur tempo permainan juga sangat penting, ini karena fisik pemain tak bisa untuk bermain cepat selama 90 menit. Seperti ketika melawan Korea Selatan, tiga gol terjadi ketika pemain sudah kelelahan akibat diforsir sejak menit pertama.

Muchlis dan Adam Alis menyita perhatian
Penampilan timnas U-23 perlu diakui sempat menyita perhatian dari publik pencinta sepak bola tanah air. Harapan untuk bisa lolos sempat meninggi ketika mampu menang di dua laga dengan cukup meyakinkan. Dari rangkaian tiga pertandingan ini ada dua pemain yang cukup menyita permainan.

Munchlis Hadi Ning Syaifulloh jelas layak dikedepankan sebagai yang terbaik di ajang kualifikasi Piala Asia U-23 ini. Di tiga pertandingan, Muchlis mampu mencetak dua gol dan empat assist. Catatan tersebut tentu mengesankan. Dia juga penyerang yang paling banyak mengancam gawang lawan dengan delapan percobaan tembakan di mana tiga di antaranya tepat sasaran, dua melenceng, serta satu diblok.

Mantan penyerang timnas U-19 ini juga menjadi game changer ketika mulai masuk di tengah-tengah pertandingan. Dalam laga menghadapi Brunei Darussalam, Muchlis baru masuk di babak kedua. Dengan masuknya Muchlis serangan timnas lebih hidup. Terbukti dua gol tercipta yang merupakan kontribusinya. Pertama assist-nya pada Ahmad Nufiandani dan yang kedua dia mencetak gol melalui sundulan memanfaatkan umpan Antoni Putro.

Pemain kedua yang cukup menyita perhatian adalah gelandang enerjik, Adam Alis. Pemain yang kini memperkuat Persija Jakarta ini menorehkan masing-masing satu gol dan satu assist. Dia juga selalu jadi pilahan pertama timnas U-23. Aji Santoso tak keliru untuk memilihnya karena dia aktif baik saat menyerang maupun bertahan.

Adam Alis melepaskan 151 operan sukses dan 34 gagal. Dia sempat melakukan delapan percobaan tembakan dengan satu tepat sasaran, empat meleset, serta tiga diblok. Adam juga membuat tiga umpan silang sukses dan delapan gagal. Untuk urusan membawa bola dia cukup ahli dengan tujuh kali dribel sukses dan dua kali gagal. Aksi bertahannya juga lumayan dua kali memotong bola dan tiga sapuan.

Rekapitulasi Statistik Indonesia U-23 di Kualifikasi Piala AFC U-23 2016 klik pada gambar untuk memperbesar

Rekapitulasi Statistik Indonesia U-23 di Kualifikasi Piala AFC U-23 2016
klik pada gambar untuk memperbesar

***

Melihat rekam jejak timnas U-23 perlu disikapi dengan bijak. Di satu sisi kita memang kecewa dengan gagal lolosnya anak asuh Aji Santoso. Tapi, tentu tidak dengan menghakimi bahwa Aji harus dipecat. SEA Games sudah sangat dekat hanya sekitar dua bulan lagi dimulai. Terlalu riskan untuk memulainya dari awal. Tim ini punya potensi dan sebagian sudah ditunjukkan. Dengan polesan yang tepat tim ini bisa meraih prestasi di Singapura bulan Juni mendatang.

Oleh Sirajudin Hasbi

@hasbisy

posted by on Match Analysis

1 comment

Kekalahan Telak dari Republik Korea Memastikan Kegagalan Indonesia Melaju Ke Putaran Final AFC U-23 2016 sumber: bolaindo.com

Kekalahan Telak dari Korea Selatan  Memastikan Kegagalan Indonesia Melaju Ke Putaran Final AFC U-23 2016
sumber: bolaindo.com

Pertandingan antara Korea Selatan U-22 melawan Indonesia U-22 merupakan laga penentu juara Grup H Kualifikasi Piala Asia U-23 2016. Sama-sama berhasil meraih kemenangan pada dua laga sebelumnya, Korea Selatan lebih unggul dalam produktivitas gol dari Indonesia. Sehingga, Garuda Muda membutuhkan kemenangan untuk bisa memastikan lolos secara otomatis ke putaran final di Qatar tahun depan.

Aji Santoso menggunakan skema yang berbeda dari laga sebelumnya, dengan menurunkan Zulfiandi yang menggantikan Hendra Adi Bayauw untuk memperkuat lini tengah bersama Adam Alis dan Paulo Sitanggang. Selain itu, Muchlis Hadi dan Abduh Lestaluhu juga kembali menjadi starter menggantikan Antoni Putro dan Andik Rendika.

Sementara Macan Putih masih menggunakan skema yang sama, namun melakukan banyak perombakan skuat. Shin Tae Yong menurunkan sembilan pemain berbeda dari laga sebelumnya. Hanya kapten Yeon Jeimin dan Lee Chandong yang tidak digantikan.

Skema formasi dan pergerakan pemain Korea Selatan U-22 melawan Indonesia U-22

Skema formasi dan pergerakan pemain Korea Selatan U-22 melawan Indonesia U-22

Pressing tinggi Korea Selatan
Sejak awal laga, Korea Selatan langsung menerapkan pressing tinggi di lini pertahanan Indonesia. Pressing yang dilakukan Korea Selatan ini terorganisir dengan sangat baik, satu unit secara kolektif. Kedua gelandang sayap ikut merapat ke tengah dan memberikan ruang kepada kedua bek sayap untuk naik ke depan.

Seluruh pemain tengah juga ikut naik, termasuk kedua bek tengah yang menerapkan garis pertahanan tinggi guna meminimalisir lubang yang terbentuk. Pressing tinggi ini terlihat dari jumlah tekel yang dilakukan lini tengah dan depan Macan Putih yang melebih lini belakangnya, yakni mencapai 18 kali dari total 28 tekel pada babak pertama.

Pressing tinggi Korea Selatan di lini pertahanan Indonesia

Pressing tinggi Korea Selatan di lini pertahanan Indonesia

Meskipun demikian, Indonesia masih berhasil lepas dari pressing yang diberikan oleh Korea Selatan karena memiliki teknik individu yang baik. Lini tengah Indonesia beberapa kali mampu lolos dari hadangan lawan dengan kecepatan dan kemampuan dribbling yang mereka miliki. Adam Alis bersama Ahmad Nufiandani menjadi pemain terbanyak di laga itu yang berhasil melewati pemain lawan pada babak pertama, yaitu masing-masing sebanyak tiga kali.

Buruknya ritme permainan Indonesia
Ketika berhasil lepas dari pressing Korea Selatan, Indonesia justru terlalu terburu-buru dalam membangun serangan. Garuda Muda sangat buruk dalam mengontrol tempo dan ritme permainan. Pada babak pertama, hanya sebesar 79% dari seluruh umpan yang dilepaskan Indonesia berhasil tepat sasaran. Selain itu, Garuda Muda juga terlalu sering kehilangan bola yakni sebanyak 26 kali.

Buruknya serangan Indonesia dikarenakan tidak adanya pemain yang menjadi penghubung ke lini depan sebagai agen transisi. Sehingga lini tengah Garuda Muda terpaksa melepaskan umpan-umpan panjang langsung ke sayap, terutama ke Ilham Udin yang berada di sisi kiri. Sedangkan Muchlis Hadi terjebak dalam situasi 2-lawan-1 akibat pengawalan ketat kedua bek tengah Korea Selatan. Muchlis Hadi tercatat kehilangan bola sebanyak empat kali pada babak pertama.

Lebarnya jarak antar lini Indonesia
Indonesia bermain kurang proaktif dengan tidak memberikan pressing ke depan dan menumpuk banyak pemainnya di belakang. Hal ini justru menciptakan jarak antara lini tengah dan lini depan menjadi sangat lebar, akibat Muchlis Hadi yang cenderung menunggu dan tidak ikut turun serta Ilham Udin dan Nufiandani yang statis di sisi lapangan.

Jarak antar lini tersebut memberikan Korea Selatan lebih banyak waktu dan ruang untuk menguasai bola dalam membangun serangan. Korea Selatan melalui double pivot bersama kedua bek sayap dengan leluasa mengalirkan bola dan melepaskan umpan-umpan silang berbahaya ke kotak penalti Indonesia. Keempat pemain tersebut berhasil melepaskan 10 dari 18 umpan silang yang dilakukan Macan Putih sepanjang pertandingan.

Double pivot Korea Selatan dengan leluasa menguasai bola tanpa pressing dari Indonesia

Double pivot Korea Selatan dengan leluasa menguasai bola tanpa pressing dari Indonesia

Skema inipun membuahkan gol bagi Korea Selatan pada menit ke-52. Berawal dari umpan silang di sisi kiri, Jung Seunghyun berhasil melesakkan bola liar dari buruknya antisipasi M. Natshir dalam memotong bola.

Blunder perubahan taktik Indonesia

Perubahan skema Indonesia menjadi 4-2-3-1; Pressing di lini pertahanan Korea Selatan tidak diikuti barisan belakang Indonesia, sehingga menghasilkan lubang besar di depannya

Perubahan skema Indonesia menjadi 4-2-3-1; Pressing di lini pertahanan Korea Selatan tidak diikuti barisan belakang Indonesia, sehingga menghasilkan lubang besar di depannya

Tertinggal satu gol memaksa Aji Santoso mengubah skema permainan Indonesia menjadi lebih proaktif dalam menekan. Antoni Putra masuk menggantikan Muchlis Hadi sebagai penyerang tunggal. Sedangkan Adam Alis ditarik keluar digantikan Evan Dimas yang bermain sebagai transisi penghubung lini tengah ke depan. Pergantiaan ini mengubah skema formasi Indonesia menjadi 4-2-3-1, dengan Paulo Sitanggang dan Zulfiandi sebagai double pivot yang ikut naik dan menekan hingga ke sepertiga lapangan akhir.

Gol kedua Korea Selatan; L Chandong dan L Yeongjae berhasil memanfaatkan lubang di depan barisan pertahanan Indonesia melalui skema umpan satu-dua

Gol kedua Korea Selatan; L Chandong dan L Yeongjae berhasil memanfaatkan lubang di depan barisan pertahanan Indonesia melalui skema umpan satu-dua

Sayangnya, pressing yang diberikan Garuda Muda tidak berjalan dengan baik, tidak satu unit secara kolektif. Para pemain belakang Indonesia bermain terlalu jauh ke dalam dan tidak ikut menekan ke depan, akibat telah kelelahan dalam menerima gempuran Korea Selatan sebelumnya.

Gol keempat Korea Selatan; Melalui skema serangan balik, L Changmin dengan bebas mengeksploitasi lubang di depan barisan pertahanan Indonesia untuk melakukan tembakan jarak jauh

Gol keempat Korea Selatan; Melalui skema serangan balik, L Changmin dengan bebas mengeksploitasi lubang di depan barisan pertahanan Indonesia untuk melakukan tembakan jarak jauh

Jarak antar lini yang begitu lebar ini menciptakan lubang besar di depan barisan pertahanan Indonesia. Korea Selatan berhasil memanfaatkan situasi ini dengan mengeksploitasi lubang tersebut untuk menciptakan gol tambahan.

Man of the Match: Lee Changmin
Selain menciptakan gol spektakuler di penghujung laga, Lee Changmin merupakan kunci penting dalam kemenangan telak empat gol tanpa balas Korea Selatan atas tuan rumah Indonesia. Ia merupakan roh permainan dari negeri Gingseng.

Lee Changmin dengan leluasa menguasai bola, mendikte permainan dan membangun serangan dari belakang. Ia melepaskan umpan sebanyak 104 kali, dengan persentase keberhasilan mencapai 83%. Ia juga tercatat berhasil melesakkan umpan silang sebanyak tujuh kali. Kedua jumlah tersebut merupakan yang tertinggi dari seluruh pemain di laga tersebut.

Selain itu, ia juga sangat disiplin dalam melakukan pressing dan menjadi dinding pertama dari lini pertahanan Korea Selatan. Lee Changmin tercatat sebagai pemain terbanyak yang melakukan percobaan tekel yaitu sebanyak 10 kali.

klik pada gambar untuk memperbesar

klik pada gambar untuk memperbesar

Kesalahan strategi Aji Santoso
Korea Selatan yang sejak awal laga menerapkan sistem pressing tinggi berhasil membuat Indonesia panik dalam mengontrol bola dan mendikte ritme permainan. Aji Santoso justru memilih bermain layaknya tim medioker – bermain aman dengan menumpuk banyak pemain di belakang dan melakukan umpan-umpan panjang langsung ke depan yang tidak pasti. Kontras jika dibandingkan dengan Indra Sjafri yang secara terang-terangan bermain ‘sombong’ dengan berani mengambil inisiatif permainan dan melakukan tekanan sepanjang laga saat Indonesia U-19 melawan Korea Selatan U-19 pada Kualifikasi Piala Asia U-19 2014 dua tahun silam.

Perubahan taktik yang dilakukan setelah tertinggal satu gol pun menjadi blunder berbuah petaka yang berakhir antiklimaks. Garuda Muda yang telah kelelahan menahan gempuran Macan Putih dua pertiga laga justru dipaksa bermain lebih terbuka. Hilangnya konsentrasi dalam situasi ‘panik’ mengakibatkan buruknya manajemen antar lini, sehingga menghasilkan lubang di lini pertahanan Indonesia yang berhasil dimanfaatkan Korea Selatan untuk menambah gol. Indonesia pun dipermalukan di rumah sendiri dan gagal lolos ke putaran final Piala Asia U-23 2016 di Qatar.

***

Oleh Adhitya Warman

@warmanadhitya

posted by on Profile, Recapitulation

No comments

Samsul - Pacho - Loco, 3 Penyerang Tertajam ISL 2014 sumber: indobolanews.com, ongisnade.co.id, sidomi.com

Samsul – Pacho – Loco, 3 Penyerang Tertajam ISL 2014
sumber: indobolanews.com, ongisnade.co.id, sidomi.com

Ferdinand Sinaga boleh saja terpilih sebagai pemain Indonesia Super League (ISL) 2014 berkat kontribusinya membawa Persib Bandung juara. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat pada Ferdinand, dia tidak masuk dalam daftar tiga penyerang tertajam ISL musim lalu.

Ada tiga nama lain yang secara statistik lebih layak untuk dikedepankan mengisi daftar tersebut. Tentunya ada nama Emmanuel Kenmogne yang menjadi top scorer ISL 2014. Dua nama lain adalah penyerang Arema, yaitu Samsul Arif dan striker gaek, Cristian Gonzales.

Ada fakta unik di antara ketiganya. Pacho Kenmogne, pemain Kamerun yang punya paspor Belgia, lalu Samsul Arif merupakan pesepak bola berkebangsaan Indonesia. Sementara Cristian Gonzales, pada mulanya sama seperti Kenmogne, berlabel pemain asing, tapi sejak 2010 dia dinaturalisasi menjadi warga negara Indonesia. Ketiganya adalah barometer penyerang berdasar status kewarganegaraannya.

Mengapa ketiganya masuk daftar sebagai penyerang tertajam?
Ketiganya dipilih masuk daftar ini jelas bukan karena faktor suka atau tidak suka. Melainkan melalui analisis data statistik sepanjang musim 2014. Dari data itulah ketiga pemain ini layak untuk disebut sebagai penyerang paling tajam.

Parameter yang dipergunakan tentu jumlah gol. Untuk yang satu ini jelas Kenmogne harus masuk. Tapi, tidak hanya itu, ada parameter lain seperti jumlah penampilan, akurasi tembakan, dan lain sebagainya.

Menariknya ketiga pemain ini memiliki jumlah pertandingan yang sama, yaitu 25 laga. Tapi, ketiganya memiliki jumlah menit bermain yang variatif. Wajar saja karena kebutuhun strategi pelatih satu dua pemain perlu untuk dirotasi. Yang biasanya menjadi pemain inti harus bersabar duduk di bangku cadangan untuk menunggu giliran bermain. Ketiganya mampu menjawab kepercayaan pelatih, ketika diberi kesempatan tampil mereka tampil tajam.

Emmanuel Kenmogne punya kualitas komplet sebagai penyerang

Emmanuel "Pacho" Kenmogne, Top Scorer ISL 2014 sumber: m.beritajatim.com

Emmanuel “Pacho” Kenmogne, Top Scorer ISL 2014
sumber: m.beritajatim.com

Musim 2014 merupakan musim kedua Kenmogne bermain di ISL. Sebelumnya dia bermain untuk Persija Jakarta. Penyerang kelahiran Bafaussam, Kamerun, 2 September 1984, itu musim lalu bermain dalam 2.231 menit. Dia mencetak 25 gol, itu berarti rata-rata golnya pertandingan adalah 1. Rata-rata yang cukup tinggi untuk penyerang.

Dengan demikian berarti pemain yang mengawali karir di Sable FC ini memiliki rataan konversi gol 45%. Pesepak bola yang pernah bermain untuk Royal Antwerp, Olympiakos Nicosia, dan Ethnikos Achna sebelum akhirnya bergabung dengan Macan Kemayoran di pertengahan musim 2013/2014 ini, rata-rata melepaskan tembakan ke arah gawang per pertandingannya 2,2 dengan akurasi 62%. Dia adalah sosok penyerang berbahaya yang ditakuti oleh kiper dan bek lawan.

Melihat statistik tersebut tentu menggiurkan untuk merekrutnya. Persib dan Persija sempat mengajukan tawaran untuk meminangnya tapi dia kemudian memilih bermain untuk Kelantan FA di Liga Malaysia. Dia hijrah ke negeri Jiran itu bersama rekannya semasa di Persebaya, Issac Pupo.

Meski minim menit bermain Samsul Arif tampil tajam

Samsul Arif, Penyerang Lokal Tersubur ISL 2014 sumber: ongisnade.co.id

Samsul Arif, Penyerang Lokal Tersubur ISL 2014
sumber: ongisnade.co.id

Sementara Samsul Arif, meski punya menit bermain yang minim dia mampu tampil tajam ketika diberi kesempatan turun bertanding. Samsul Arif memang bermain dalam 25 pertandingan tapi jumlah menit bermainnya hanya 1.335 menit, jauh berbeda dengan Kenmogne maupun Cristian Gonzales.

Hal tersebut terjadi lantaran Samsul Arif lebih sering tampil sebagai pemain pengganti. Hal yang wajar mengingat Arema menerapkan sistem rotasi bagi semua pemain dan di lini depan ada nama lain seperti Gonzales, Beto Goncalves, Sunarto, hingga Dendi Santoso. Namun, justru di sinilah penyerang kelahiran Bojonegoro, 14 Januari 1985, itu menunjukkan tajinya. Dia mampu mengoleksi 16 gol atau rata-rata 0,64 gol per pertandingan. Rataan konversi golnya 57% dan mencetak gol setiap 83,4 menit.

Pesepak bola yang mengawali karir bersama Persibo Bojonegoro ini juga mampu melakukan tembakan ke arah gawang 1,1 kali per pertandingan. Akurasi tembakannya lebih baik dari Kenmogne, yakni 63%. Kecuali parameter jumlah gol dan rata-rata tembakan ke gawang per pertandingan, pemain yang pernah membela Persela Lamongan pada 2009/2010 dan 2012/2013 ini punya catatan statistik yang lebih baik dibanding Kenmogne.

Cristian Gonzales, tua-tua keladi

Cristian "El Loco" Gonzales, Masih Subur di Usia Senja sumber: liputan6.com

Cristian “El Loco” Gonzales, Masih Subur di Usia Senja
sumber: liputan6.com

Sebutan tua-tua keladi layak disematkan pada Cristian Gonzales. Di usianya yang sudah menginjak 39 tahun ini dia masih mampu jadi salah satu penyerang tertajam di Indonesia. Dia juga masih dipanggil Alfred Riedl untuk tampil di Piala AFF 2014 lalu di Vietnam.

Panggilan tersebut rasanya memang layak mengingat statistiknya bersama Arema di ISL musim lalu cukup mengesankan. Pemain bernama lengkap Cristian Gerard Alfaro Gonzales itu masih kuat bermain dalam 25 pertandingan dengan total 2.135 menit bermain.

Kepercayaan pelatih Suharno dan Joko Susilo tak dia sia-siakan. 15 gol ditorehkannya musim lalu. Meski akhirnya Arema gagal melangkah ke final, Gonzales tetap menyita perhatian sendiri.

Pesepak bola kelahiran Montevideo, 30 Agustus 1975, itu tetap jadi ancaman nyata bagi setiap pertahanan lawan. Dia punya statistik rata-rata 0,6 gol per pertandingan. Dia juga sering melepaskan tembakan ke gawang lawan dengan rata-rata 1,4 tendangan per pertandingan. Akurasi tembakannya 54%. Sementara rataan konversi golnya 42%.

Dilihat dari data statistik memang di bawah Kenmogne dan Samsul Arif. Tapi, pencapaian El Loco –julukan Gonzales- tetaplah fenomenal. Dia sudah melewati usia emasnya sebagai pesepak bola tapi tetap bisa tampil tajam dan jadi elemen penting bagi klub yang dibelanya.

Gonzales juga punya rekor tersendiri di Liga Indonesia. Mengawali karir di Sud America dia mulai bermain di Indonesia ketika bergabung dengan PSM Makassar pada musim 2003/2004. Penampilan trengginasnya bersama Oscar Aravena menarik banyak minat dari klub lain. Dia akhirnya hijrah ke Persik Kediri di mana dia mampu menjuarai Liga Indonesia musim 2006. Setelah sempat membela Persib Bandung dan Persisam Putra Samarinda, Gonzales bergabung dengan Arema hingga kini. Total dia sudah mencetak 173 gol yang berarti paling banyak di antara pemain lain yang pernah bermain di Liga Indonesia sepanjang sejarah kompetisi di Tanah Air.

Musim 2015 Gonzales diperpanjang kontraknya oleh manajemen Arema. Dia tampaknya masih akan jadi andalan di lini depan. Pada usianya yang menjelang 40 tahun ini dia masih layak untuk diharapkan mencetak gol mengingat dia punya kemampuan brilian untuk mencari ruang di daerah pertahanan lawan dan menuntaskan peluang sekecil apapun.

Infografis 3 Penyerang Tersubur ISL 2014 (klik pada gambar untuk memperbesar)

Infografis 3 Penyerang Tersubur ISL 2014
(klik pada gambar untuk memperbesar)

Dengan Kenmogne hengkang, Samsul Arif dan Gonzales kini merupakan dua penyerang tertajam di ISL 2014 yang masih tersisa. Keduanya akan bersaing dengan penyerang lain yang punya potensi untuk jadi penyerang tertajam seperti Ferdinand Sinaga, Titus Bonai, Boaz Solossa, Lancine Kone, dan lainnya. Menarik untuk menantikan kiprah mereka di ISL 2015.

Oleh Sirajudin Hasbi
@hasbisy

posted by on Profile

No comments

Gustavo Fabian 'Gusty' Lopez, Argentine Wizard source: master303.com

Gustavo Fabian ‘Gusty’ Lopez, Argentine Wizard
source: master303.com

For Indonesian football fans, the name Gustavo Fabian Lopez is no stranger. The Argentine midfielder spent 4 years of his footballing career in the archipelago nation, where he made a name of himself. Playing for Persela for 3 seasons in 2 different occasions, he became a fan favorite in Lamongan.

On his second stint with Persela from 2011 to 2013, he made a prolific tandem with Mario Alejandro Costas, a fellow Argentinian. In 2 seasons, Lopez and Costas produced up to 34 goals for Persela. Sadly, in 2014, the duo had to leave Persela. While Costas chose Persija, Lopez moved South East bound from Lamongan to Malang.

Lopez-Costas, Deadly Duo from Lamongan source: goal.com

Lopez-Costas, Deadly Duo from Lamongan
source: goal.com

With a very strong Arema side, Lopez teamed up with Cristian Gonzales and Alberto Goncalves up front. Local Indonesian media paired the trio with Barcelona’s Messi-Suarez-Neymar, as both trios consist of players from the same countries: Argentina, Uruguay, and Brazil. The three players produced more than half of Arema’s total goal tally in the 2014 Indonesia Super League (ISL).

Lopez possesses a set of required skills to be a productive playmaker. His statistics during the 2014 ISL show it all. Let alone scoring 8 goals, Lopez was also involved in another 8 by providing the assist. His remarkable ball keeping and dribbling techniques indicate his Latino characteristic. In average, Lopez successfully made 1.3 dribbles per game.

Lopez appeared in 23 matches with 1,903 minutes played during the 2014 ISL. Averagely, he made 59.5 successful passes and 2.2 successful crosses per game. He fired 1.1 shots on goal per game in average with 40.7% accuracy. His free-kick taking ability completes his attributes as a quality player.

Fun, Yet Disappointing Season with Arema source: bolaskor.com

Fun, Yet Disappointing Season with Arema
source: bolaskor.com

Arema’s journey ended by Persib in the semifinal. Lopez was subbed out in the 2nd half of normal time due to injury. Without his wizardry creativity, Arema’s attack fell short to score more goals in the extra time. In the other hand, Persib managed to score twice and eventually claimed the crown by beating Persipura in the final.

Lopez decided not to extend his involvement with Arema in 2015. He decided to move abroad to Malaysia without winning any major trophy during his career in Indonesia. He joined Terengganu FA for the 2015 Malaysia Super League, and teams up with Paulo Rangel upfront, who won the competition’s Golden Boot Award in the previous season.

With the Argentine Wizard on board, Terengganu can now aim for a better outcome.

11 Gustavo Lopez-01

Gusty Lopez’s Statistics in the 2014 Indonesia Super League with Arema (click on image to enlarge)

Selamat datang, Wizard Terengganu!

by Pramuaji Ajay

@PramuajiAjay

posted by on Profile, Recapitulation

No comments

Lord A7ep sumber: sidomi.com

“Lord A7ep”
sumber: sidomi.com

Lord Atep, Lord Atep, Lord Atep”. Seruan tersebut menggema di Stadion Thuwunna Youth Training Centre, setelah kapten Persib, Atep, berhasil membawa timnya unggul 1-0 atas wakil Myanmar Ayeyawady United pada lanjutan babak penyishian AFC Cup 2015, Rabu (11/3). Gol Atep berawal dari pergerakan Tantan di sisi kiri pertahanan Ayeyawady United, lalu kemudian dirinya mengirimkan umpan kepada Atep yang sudah berdiri bebas di dalam kontak penalti, yang disambut dengan sebuah tendangan keras melalui punggung kaki, yang menaklukan penjaga gawang Vanlal Hruala.

Sayang gol indah Atep ini menjadi sia-sia, karena tim yang sebelumnya bernama Delta United ini berhasil menyamakan kedudukan melalui Edison Fonsesca pada babak kedua. Persib pun akhirnya hanya membawa pulang satu poin dari Yangon.

Lord adalah ungkapan satir yang diberikan kepada pemain internasional Denmark, Niklas Bendtner, yang merasa dirinya sejajar dengan dua pemain terbaik dunia saat ini, yaitu Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Akan tetapi hal tersebut nyatanya tidak diiringi dengan kinerja dan prestasi sang pemain.

Ungkapan Lord ini juga disematkan kepada kapten Persib, Atep. salah satu alasanya yang paling mengemuka adalah ketika dirinya pernah berujar akan mencetak minimal 10 gol per-musim bagi Maung Bandung. Tetapi, dalam kenyataanya sang skipper belum pernah sekalipun melakukanya sejak kembali ke Bandung pada 2008 setelah sebelumnya bermain untuk rival utama, Persija.

Akan tetapi Liga Super Indonesia (LSI) 2014 lalu menyisakan cerita lain, Atep berhasil membawa tim kebanggan Jawa Barat ini menjadi kampiun setelah puasa selama 19 tahun. Namun, ada banyak hal lain yang dicatatkan oleh Lord A7ep dalam perjalanannya membawa Persib menjadi juara LSI 2014. Berikut ulasan kami mengenai Lord Atep dalam angka:

1036
Total Waktu Bermain Lord Atep musim lalu, di mana 577 menit dirinya bermain sebagai starter. Atep tercatat hanya 3 kali bermain 90 menit penuh yaitu pada pertandingan pertama Persib di LSI 2014 melawan Sriwijaya FC, serta babak delapan besar ketika berhadapan dengan Mitra Kukar dan Persebaya Surabaya.

374
Jumlah banyaknya operan yang dilepaskan oleh pemain kelahiran Cianjur ini, dengan rincian 13,4 operan dalam setiap pertandingan dengan tingkat kesuksesan sebesar 79,74%

68
Menit di mana Djadjang Nurjdjaman biasanya memutuskan memasukan Atep untuk memberi perubahan pada jalannya pertandingan.

56
Atep termasuk pemain Persib yang cukup sering kehilangan bola baik ketika membangun serangan ataupun membantu pertahanan, dirinya kehilangan bola sebanyak 56 kali pada musim lalu.

46
Persentase Lord Atep dalam mengkonversi peluang di LSI 2014.

20
Supersub, Atep hanya membutuhkan rata-rata 20 menit untuk mencetak gol, sejak dirinya masuk ke lapangan dari bangku cadangan. bahkan 4 dari 6 gol yang ia ciptakan sepanjang musim lalu terjadi menjelang pertandingan usai.

Loyalitas Total Untuk Persib sumber: bolaindo.com

Loyalitas Total Untuk Persib
sumber: bolaindo.com

19
Step over dan trik yang dilakukan oleh Atep tentunya mengundang lawan untuk tidak segan-segan untuk menghentikanya dengan segala cara, sebanyak 19 kali Atep dijatuhkan oleh lawan sepanjang musim lalu.

17
Salah satu hal yang diamini pula oleh bobotoh adalah kebiasaan Atep untuk beratraksi yang terkadang tidak efektif. 17 kali dribelnya tidak menghasilkan apa-apa, rata-rata gocekan sukses Atep pun termasuk yang kurang baik untuk ukuran pemain yang memilki kecepatan dan skill mumpuni, yaitu 39,29% per pertandingan.

16
Uniknya, musim lalu Atep termasuk pemain yang sukses memenangkan duel udara selain duo bek tengah Achmad Jufriyanto dan Vladimir Vujovic. Wakil kapten tim nasional Indonesia U-23 di SEA Games Thailand 2007 ini berhasil memenangi duel udara sebanyak 16 kali dengan persentase kesukesan sebesar 69,57% di LSI 2014.

13
Merupakan jumlah tendangan tepat sasaran yang dilepaskan oleh Atep sepanjang musim 2014.

9
Bisa jadi dikarenakan kehabisan nafas setelah melakukan trik, berimbas kepada minimnya jumlah umpan silang yang dilepaskan oleh Atep. Dari 39 umpan silang hanya 9 yang tepat sasaran di LSI 2014, selebihnya melenceng atau berhasil diantisipasi oleh pertahanan lawan.

7
Nomor punggung yang identik dengan Lord A7ep. Nomor ini ia kenakan sejak ia mengawali karir profesionalnya bersama Persija hingga sekarang

6
Jumlah Gol yang berhasil disarangkan di LSI 2014 oleh pemain yang memulai debut tim nasional Indonesia pada 25 Agustus 2006 berhadapan dengan Myanmar di ajang Merdeka Games.

0,5
Jumlah rata-rata pelanggaran yang dibuat Atep dalam setiap pertandingan LSI 2014.

0
Lord Atep tidak pernah menerima satupun hukuman kartu di LSI 2014.

Lord A7ep Dalam Angka klik pada gambar untuk memperbesar

Lord A7ep Dalam Angka
klik pada gambar untuk memperbesar

Sejak menerima estafet kepemimpinan dari Maman Abdurrahman pada 2013, Atep sejauh ini masih dianggap belum mampu memberikan permainan yang menunjukan bahwa dirinya layak memimpin Maung Bandung. Nilai positifnya adalah Atep bertahan di Persib, meskipun banyak pemain hengkang karena tidak tahan dengan tekanan dari bobotoh dan juga situasi ketika Persib mandeg prestasi. Loyalitasnya kepada Persib merupakan sesuatu yang berharga. Golnya ke gawang Arema Cronus pada babak perpanjangan waktu di semifinal LSI 2014 juga merupakan bukti loyalitas dan totalitasnya kepada Persib, sekalipun tidak diberikan waktu bermain yang banyak.

Bahkan, julukan Lord yang disematkan kepadanya, justru ditanggapi sebagai bentuk penghargaan bobotoh kepada dirinya, dan menjadi tambahan motivasi untuk bermain lebih baik lagi. Seperti pernyataanya yang dikutip oleh media lokal Bandung. “Julukan (Lord) pasti menjadi beban, tetapi saya juga apresiasi, intinya walaupun beban saya anggap tugas berat itu sebagai motivasi untuk memberikan yang terbaik dan memberikan kebahagiaan bagi masyarakat yang mencintai Persib.”

All Hail Lord Atep!

Oleh Aun Rahman

@aunrrahman

posted by on Profile, Recapitulation

No comments

2 Gelandang Bertahan Korea Selatan di Liga Super Indonesia sumber: sportanews.com dan goal.com

2 Gelandang Bertahan Korea Selatan di Liga Super Indonesia
sumber: sportanews.com dan goal.com

K-Pop mencatatkan rekor pada tahun 2012 ketika ada 33 boysband dan 38 girlsband baru yang melakukan debut. Penetrasi budaya Korea Selatan ke negara lain, termasuk Indonesia, pun semakin kuat. Demam K-Pop di Indonesia tidak hanya menjalari kaum hawa tapi juga para lelaki.

Tiket konser yang menghadirkan artis dari Negeri Ginseng tersebut selalu ludes terjual. Rekaman video pertunjukan grup idola ramai di pasaran, entah yang legal ataupun bajakan. Tidak hanya berkutat pada lagu, kumpulan artis yang mampu menari lemah gemulai tersebut juga hadir dalam acara reality show. Sama dengan lagunya, reality show ini laris manis di pasaran. K-Pop jadi topik perbincangan hangat di kantin, kafe, hingga ruang-ruang akademik.

Setiap penggemarnya punya alasan tak jauh berbeda ketika ditanya mengapa mereka menyukai K-Pop. Idol grup dari negerinya Park Ji Sung itu mampu menyuguhkan penampilan apik, gaya menari yang khas dan orisinil, yang dibumbui dengan tata ruang dan gaya berpakaian istimewa.

Tidak hanya di ranah budaya dan hiburan, Korea Selatan juga memberi warna bagi dunia sepak bola kita. Namun, dengan gaya yang berbeda. Tidak ada pemain berparas rupawan dan gaya gemulai khas penyanyi K-Pop, pesepak bola dari Korea Selatan identik sebagai pekerja keras. Ketika bertanding tak kenal kompromi dengan pihak lawan, jika memang perlu bermain keras, mereka akan dengan senang hati melakukannya. Identitas seperti itu melekat jelas pada dua gelandang bertahan Lim Joon-sik dan Yoo Hyun-goo.

Petarung sejati di lini tengah dengan rekor juara
Lim Joon-Sik datang pertama kali ke Indonesia pada tahun 2010. Dia bergabung dengan Sriwijaya FC. Bersama Laskar Wong Kito dia mampu meraih gelar Liga Super Indonesia (LSI) musim 2011/2012 di bawah arahan pelatih Kas Hartadi.

Lim Joon-sik, Persipura sumber: bola.net

Lim Joon-sik
sumber: bola.net

Usai mengakhiri kerja sama dengan klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan itu, Lim hijrah ke Papua. Dia bergabung dengan klub besar Persipura. Di sinilah dia kemudian mampu mencetak rekor tersendiri. Berkat kontribusi besarnya di lini tengah Tim Mutiara Hitam, pria yang lahir pada 13 September 1981 ini mampu mengantar Persipura jadi juara LSI 2013. Dia jadi pesepak bola pertama di dunia yang memenangkan gelar LSI dalam dua musim berturut-turut. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada pemain lain yang mampu menyamai pencapaiannya tersebut dan mungkin sulit untuk melakukannya.

Di bawah arahan Jacksen F. Tiago, Lim mampu tampil memukau. Bersama Immanuel Wanggai dan Gerald Pangkali, Lim adalah komponen penting lini tengah klub kebanggaan masyarakat Papua ini. Musim 2014 lalu, Lim tampil dalam 23 pertandingan. Regulasi hanya tiga pemain asing yang boleh diturunkan dalam satu pertandingan sempat membuatnya dirotasi dengan rekan senegaranya, Yoo Jae-hoon, Bio Paulin, dan Robertino Pugliara. Namun, Jacksen kerap memilihnya untuk mengisi satu slot pemain asing. Dari total 28 pertandingan yang dijalani Persipura, hanya lima pertandingan yang tak dia ikuti.

Total, Lim bermain selama 2,010 menit bersama Tim Mutiara Hitam di LSI 2014. Lim tak mencetak satupun gol. Tapi, kekuatan utamanya ada dalam aksi bertahan. Sebagai gelandang bertahan, tugas utama Lim adalah memutus serangan lawan agar tak mengancam pertahanannya. Rata-rata, Lim melakukan 2,5 kali tekel sukses per pertandingan, juga melakukan 2,5 kali intersep dan 1,3 kali sapuan setiap laga. Dia juga cukup gigih untuk memenangkan duel udara. Dia melakukan rata-rata 4,2 sundulan per pertandingan.

Sebagai petarung, tak heran jika Lim kerap melakukan pelanggaran. Rata-rata dia melakukan dua pelanggaran per pertandingan. Itu mengakibatkan sepanjang musim lalu gelandang dengan tinggi 178 cm itu mengoleksi hingga empat kartu kuning.

Yoo Hyun-goo jaminan kokohnya lini tengah Semen Padang
Di sebelah Barat Indonesia, Yoo Hyun-Goo jadi pemain penting bagi Semen Padang. Pria kelahiran 25 Januari 1983 itu jadi jaminan kokohnya lini tengah Kabau Sirah. Walaupun gagal mengantarkan tim yang ditopang oleh pabrik semen tersebut ke semifinal, penampilan Yoo tetaplah layak disebut sebagai salah satu gelandang terbaik yang bermain di negeri ini.

Yoo Hyun-koo sumber: spiritsumbar.com

Yoo Hyun-koo
sumber: spiritsumbar.com

Total dia bermain dalam 1,472 menit dari 17 pertandingan. Catatan bertahannya bisa dibandingkan dengan Lim Joon-Sik, bahkan unggul dalam beberapa aspek. Pesepak bola berusia 32 tahun ini mampu melakukan rata-rata 3 tekel sukses per pertandingan dan 2,8 usaha memotong bola di tiap laga. Di kedua aspek ini dia lebih tangguh dibanding kompatriotnya, Lim.

Sementara pada parameter clearance dan sundulan, Yoo sedikit kalah dengan “hanya” membukukan rata-rata satu sapuan per pertandingan dan 3,5 sundulan per laga. Gelandang bertahan Semen Padang ini juga lebih beringas dengan mencatatkan rata-rata 2,5 kali pelanggaran per pertandingan. Tak heran jika dia sempat mengoleksi satu kartu merah dan tiga kartu kuning.

Satu lagi yang keunggulan Yoo dari Lim Joon-Sik adalah torehan gol. Yoo berhasil mencetak satu gol yang mengantarkan Semen Padang meraih kemenangan tandang atas Persita pada 7 Juni 2014. Meski sudah membela Semen Padang sejak awal karirnya di Indonesia pada 2010, tidak ada tanda dia sudah bosan dan ingin hengkang. Kenyamanan di Padang yang kondusif membuatnya memilih bertahan untuk menyambut musim 2015.

Statistik Lim Joon-sik dan Yoo Hyun-goo di LSI 2014 klik pada gambar untuk memperbesar

Statistik Lim Joon-sik dan Yoo Hyun-goo di LSI 2014
klik pada gambar untuk memperbesar

Baik Lim Joon-Sik dan Yoo Hyun-Goo adalah potret pesepak bola Korea Selatan yang pekerja keras. Keduanya bisa menjadi duta bagi negeri asalnya bahwa negeri gingseng tak melulu mengenai tarian lembut, tapi bisa keras dan beringas ketika bertugas sebagai gelandang bertahan di lapangan. Klub Indonesia lain mungkin bisa mencari gelandang bertahan tangguh dari Korea Selatan mengingat rekam jejak mengesankan yang telah ditorehkan oleh Lim Joon-Sik dan Yoo Hyun-Goo.

oleh Sirajudin Hasbi

@hasbisy

posted by on Profile

No comments

Deniss Romanovs: Kiper Terbaik ISL 2014 versi Labbola sumber: ggintersport.com

Deniss Romanovs: Kiper Terbaik ISL 2014 versi Labbola
sumber: ggintersport.com

Penjaga gawang Pelita Bandung Raya (PBR), Deniss Romanovs, layak untuk disebut sebagai kiper terbaik Indonesia Super League (ISL) 2014 meski timnya tak jadi juara. Penampilan cemerlangnya sepanjang musim jadi komponen penting kesuksesan PBR yang tak diunggulkan bisa melaju hingga semifinal ISL musim lalu.

Pesepak bola yang kenyang pengalaman bermain di Latvia, Romania, Ceko, Azerbaijan, hingga akhirnya mendarat di Indonesia sejak tahun 2011 ini selalu bermain dalam 27 pertandingan yang dijalani oleh PBR. Di tim berjuluk The Boys Are Back ini Romanovs selalu jadi pilihan utama pelatih Dejan Antonic untuk menjadi benteng pertahanan terakhir. Pilihan yang tak salah untuk mempercayai kiper bertinggi 187 cm ini.

Handal dalam menahan tembakan lawan
Bermain selama 2,430 menit, kiper kelahiran Riga, Latvia, 2 September 1978 ini mampu membuat 87 penyelamatan. Itu berarti Romanovs melakukan 3.6 savesdi setiap pertandingannya.

Tidak hanya handal dalam menahan tembakan lawan, Romanovs juga piawai dalam memotong bola dari lawan. Rata-rata setiap pertandingan, pria yang menjalani debut dengan timnas Latvia pada 3 Desember 2004 melawan Bahrain dalam sebuah pertandingan persahabatan ini mampu melakuan sekali intercept. Secara keseluruhan dia melakukan 25 kali interceptmusim lalu.

Dia juga kerap berani menyongsong datangnya bola yang mengarah ke gawangnya jika bek PBR sudah tak mampu mengamankan areanya. Romanovs melakukan 34 kali clearance. Itu berarti setiap pertandingan rata-rata dirinya melakukan 1,4 sapuan.

Mencatat Rekor Save, Intercept dan Clearance Terbanyak di ISL 2014 sumber: sidomi.com

Mencatat Rekor Save, Intercept dan Clearance Terbanyak di ISL 2014
sumber: sidomi.com

Perlu diketahui bahwa Labbola mendata statistik Denniss Romanovs dalam 24 pertandingan. Itu berarti ada tiga pertandingan yang tidak dicatat jadi jumlah penyelamatan, intersep, dan sapuannya lebih banyak dibandingkan angka yang disebutkan tersebut. Meski demikian, angka tersebut sudah merupakan yang paling banyak dibandingkan kiper lain baik dalam parameter sapuan, intersep, dan penyelamatan.

Cemerlang di tengah komposisi skuat yang tidak istimewa
Jadi, sah saja jika kemudian kita berargumen bahwa dia adalah kiper terbaik ISL musim lalu. Walaupun tentunya kita menyadari bahwa jika dilihat dari total clean sheet, Romanovs bukan yang terbaik.

Pemain yang pernah membela Cendrawasih Papua, Arema, dan Pro Duta di kompetisi Liga Primer Indonesia ini ‘hanya’ tidak kebobolan dalam tujuh pertandingan. Total dia kemasukan 27 gol atau rata-rata satu gol bersarang ke gawangnya setiap pertandingan.

Kurnia Meiga punya catatan yang lebih baik. Kiper Arema tersebut hanya kebobolan 18 gol sepanjang musim lalu dengan 12 pertandingan dari 23 laga yang dia mainkan berakhir dengan tidak kebobolan. Lalu ada nama Yoo Jae-Hoon, kiper Persipura musim lalu yang mampu menjaga gawangnya tak kebobolan dalam sebelas pertandingan dan total kemasukan 20 gol.

Namun, Romanovs layak disebut yang terbaik lantaran dia tampil cemerlang di tim yang komposisi skuatnya tidak istimewa. PBR diisi oleh kombinasi pemain berpengalaman dan junior yang belum punya nama besar di sepak bola Indonesia. Tidak ada Victor Igbonefo atau Bio Paulin yang disebut sebagai bek kuat di ISL yang jadi benteng untuk Kurnia Meiga dan Yoo Jae-Hoon. Oleh karena itu pula Romanovs kerap meneriaki pemain belakang agar bermain lebih disiplin. Kepemimpinannya ini menjadi nilai tambah juga baginya.

Didukung Barisan Pemain Tanpa Nama Besar sumber: ggintersport.com

Didukung Barisan Pemain Tanpa Nama Besar
sumber: ggintersport.com

Walaupun ditawari bermain di luar Indonesia, Romanovs masih setia menjadi anak asuh Dejan Antonic di PBR untuk musim 2015. Dengan kondisi PBR musim ini digoyang masalah finansial yang sedikit banyak tentu berpengaruh pada situasi dalam tim, keberadaan Romanovs akan semakin krusial musim depan. Tak banyak pemain bintang yang berlabuh, justru pemain penting seperti Bambang Pamungkas dan Rizky Pellu hengkang ke klub lain. Menarik untuk menanti kiprah penjaga gawang gaek yang memiliki 5 caps bersama tim nasional Latvia ini di ISL musim 2015.

Infografik Deniss Romanovs di ISL 2014 klik pada gambar untuk memperbesar

Infografik Deniss Romanovs di ISL 2014
klik pada gambar untuk memperbesar

Oleh Sirajudin Hasbi

@hasbisy

posted by on Profile

No comments

Pemain Terbaik ISL 2014 Versi Labbola sumber: tempo.co

Pemain Terbaik ISL 2014 Versi Labbola
sumber: tempo.co

Makan Konate sejatinya layak disebut menyandang gelar pemain terbaik Indonesia Super League (ISL) 2014. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Ferdinand Alfred Sinaga yang memperoleh anugerah tersebut dari PT Liga Indonesia, performa gemilang Konate musim lalu jadi komponen penting diraihnya gelar juara Persib Bandung.

Pemain Serba Bisa dan Aset Berharga Persib

Dahaga gelar selama 19 tahun terbayar berkat keberhasilan Pangeran Biru menekuk Persipura Jayapura melalui adu penalti di final yang digelar di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang. Sudah barang tentu kejayaan tersebut tak diraih dengan mudah. Butuh perjalanan panjang mengarungi musim yang teramat melelahkan.

Persib selalu punya keinginan untuk juara dari musim ke musim. Mereka selalu mengontrak pemain berlabel bintang dengan nilai kontrak mahal. Tapi, harapan tak selalu bisa jadi kenyataan. Ketika akhirnya harapan itu jadi nyata, itu berkat keberhasilan seluruh komponen klub mulai dari manajemen, jajaran pelatih, pemain, hingga suporter yang tak lelah memberikan dukungannya.

Salah satu sosok yang berpengaruh penting dalam kesuksesan tersebut tentulah Makan Konate. Gelandang serang berusia 23 tahun tersebut selalu tampil dalam 28 pertandingan dari babak penyisihan Wilayah Barat, Babak 8 Besar, hingga pertarungan hidup mati di semifinal dan final.

Lihai Mengkreasi Peluang dan Mencetak Gol

Guna menggaransi satu tempat di tim utama, tentulah Konate perlu punya teknik olah bola menawan agar Djajang Nurjaman seratus persen percaya padanya. Lantaran punya kemampuan mumpuni, pemain kelahiran Bamako, Mali, tersebut selalu dipilih sebagai pemain inti. Dia bisa bermain sebagai gelandang serang di belakang penyerang, bermain melebar, maupun sebagai gelandang jangkar jika dibutuhkan. Belakangan, berkat kecepatan dan ketajamannya, dia diberi kebebasan bergerak di belakang striker untuk memaksimalkan potensinya.

Pemain yang lahir pada 10 November 1991 itu memang sangat tajam. Ketika Djibril Coulibaly yang diharapkan bisa jadi target man melempem, Konate bisa mem-back up peran dari rekan senegaranyanya tersebut. 13 gol yang dia ciptakan menjadi tolak ukur yang produktif bagi seorang gelandang. Tidak hanya itu, sebagai gelandang serang dia melayani pemain lain untuk memperoleh peluang mencetak gol. Total dia menciptakan 5 assist.

Pemain ini memang dianugerahi kemampuan komplet. Dia bisa tajam sekaligus akurat dalam membagi bola. Sepanjang musim lalu, Konate melepaskan 96 tembakan di mana 36 di antaranya menemui sasaran. Akurasinya 37.5% membuat setiap penjaga gawang lawan tegang setiap Konate memegang bola. Ada 1,196 operan sukses dengan akurasi mencapai 83.17%. Akurasi yang di atas rata-rata pemain sepak bola Indonesia pada umumnya.

Tak hanya berhenti di situ, dengan postur ideal bertinggi 178cm, Konate lihai dalam melindungi bola yang dia giring. Dia menciptakan 60 dribel sukses alias 2,1 dribel sukses per pertandingan. Jika bermain lebih melebar, pemain berkebangsaan Mali ini kerap melepaskan umpan silang untuk disambut rekan setimnya. Dia melakukan 27 umpan silang sukses atau setidaknya sekali umpan silang sukses setiap pertandingan.

Top Skorer Persib dan Gelandang Tersubur ISL 2014 dengan 13 Gol sumber: bola.liputan6.com

Top Skorer Persib dan Gelandang Tersubur ISL 2014 dengan 13 Gol
sumber: bola.liputan6.com

Sebutan sebagai peamin serba bisa layak disematkan padanya setelah dia terbukti handal dalam menyerang maupun bertahan. Jika catatannya ketika menyerang sudah sedemikian menakutkan bagi lawan untuk mewaspadainya, maka dia bisa jadi momok yang menakutkan untuk setiap gelandang lawan yang memulai serangan. Dia melakukan 62 kali tekel atau 2,2 tekel per pertandingan, serta 67 kali intersep yang berarti 2,4 kali memotong bola lawan setiap pertandingannya. Kemampuannya tersebut tentu membantu barisan pertahanan yang digalang oleh Vladimir Vujovic dan Achmad Jufriyanto untuk bisa mengatur lini belakang ketika lawan hendak melakukan serangan.

Kebugaran dan Ketenangan

Seluruh kemampuan memukau tersebut tidak akan bermanfaat secara maksimal jika tak ditunjang dengan kebugaran. Selalu bisa jadi andalan di setiap pertandingan itu menunjukkan bahwa pesepak bola yang mengawali karir di Indonesia bersama PSPS Pekanbaru dan bersinar dengan Barito Putera tersebut punya kebugaran mengesankan sekaligus ketenangan.

Kebugaran fisik jelas jadi salah satu faktor utama seorang pemain untuk bisa menampilkan permainan terbaiknya. Tak mungkin Konate bisa mengoleksi 60 dribel sukses jika dia mudah dijatuhkan oleh pemain belakang lawan. Tidak mungkin juga tanpa kebugaran Djanur, sapaan akrab Djajang Nurjaman, terus percaya untuk memasangnya di setiap laga.

Sementara berkat ketenangannya, Konate bisa tepat mengambil keputusan ketika harus melakukan tembakan atau memberi umpan pada rekan setimnya. Dia melakukan 3,4 tendangan setiap pertandingan dengan 1,3 tembakannya tepat sasaran. Kemampuannya mengontrol emosi juga meminimalkan dia menerima hukuman kartu kuning maupun kartu merah yang bisa saja membuatnya absen di pertandingan berikutnya. Musim lalu dia hanya mengoleksi tiga kartu kuning.

Dengan seluruh kemampuannya tersebut tentulah kita layak menyebutnya sebagai salah satu pemain terbaik yang berlaga di ISL. Tantangannya ke depan lebih berat mengingat Persib juga bermain di Piala AFC serta perubahan format LSI menjadi satu wilayah (total jadi ada 34 pertandingan).

Jika musim lalu dia tampil baik dalam 2,543 menit pertandingan, musim ini sangat mungkin angka tersebut bertambah mengingat jumlah pertandingan lebih banyak dan intensitasnya lebih sering. Inilah ujian berat bagi Makan Konate untuk bisa menjaga kebugaran agar terus bermain dalam performa terbaiknya di setiap pertandingan.

Infografis Statistik Makan Konate di ISL 2014 Klik gambar untuk memperbesar

Infografis Statistik Makan Konate di ISL 2014
Klik gambar untuk memperbesar

Oleh Sirajudin Hasbi
@Hasbisy